Back to Home Page

Prayoga Rumahku : Home or House

Dalam ranah pekerjaan, lingkungan yang kondusif banyak berkontribusi dalam menciptakan keseimbangan, keefektifan pun keefisienen antar pekerja. Lingkungan yang dimaksud tidak hanya mencakup lokasi, namun juga situasi, seperti hubungan antarindividu yang baik dan positif. Masalahnya, masih adakah suasana seperti itu yang terbentuk dalam ranah kerja?

Melalui seminar yang diadakan untuk merayakan 100 tahun Penampakan Pelindung Sekolah Santa Maria, topik ini diangkat  menjadi pembahasan yang serius namun dikemas dalam situasi yang santai. Selasa, 26 September 2017, berlokasi di Aula SMP Santa Maria Pekanbaru, Bapak Albertus Sanga, S. Fil. selaku kepala SMP Santo Yosep Duri menjadi pembicara bagi pendidik, tenaga kependidik, serta staff rumah tangga di Yayasan Prayoga Riau Koordinatorat Pekanbaru.

1

Tidak seperti seminar biasa, seminar ini dilakukan secara dua arah. Peserta seminar sangat dilibatkan dalam mengukur sejauh mana kita mengenal pimpinan maupun rekan kerja kita dengan cara parodi singkat yang diperankan wakil dari tiap-tiap unit. Parodi ini tidak hanya menghibur, namun juga menjadi refleksi bagi para peserta untuk semakin memperbaiki diri.

Melalui seminar ini kita juga diharapkan mampu menjadikan tempat kerja kita sebagai home bukan house. Home berati kita bisa menjadikan tempat kerja yaitu sekolah terasa nyaman dan hangat.

Ada beberapa cara untuk menciptakan kenyamanan kerja. Cara yang pertama dengan mengembangkan sikap proaktif, yakni cara di mana seseorang berpikir dahulu sebelum bekerja dengan kata lain kita mampu berjuang, berkomitmen, berdedikasi, sehingga tercipta kehangatan , atau home itu sendiri. Cara yang kedua yaitu reaktif dalam arti, bekerja dahulu sebelum berpikir. Cara kedua inilah yang harus kita buang jauh-jauh untuk menciptakan home di tempat kerja kita.

Pemateri juga menekankan dalam mendedikasikan diri dalam suatu bidang, setiap orang  harus menjadi part of solution, dan bukan part of problem. Di sini setiap orang baiknya menjadi solusi bagi orang lain dan bukan pemicu masalah di dalam komunitas. Pertanyaannya adalah, kita berada di posisi mana?

Sikap-sikap yang menghambat kita dalam berkomunikasi adalah sikap saling menghargai antarkaryawan. Ada pun hal ini tidak bisa terwujud jika ada hambatan komunikasi , seperti; sifat bias, sok tahu, menghindari kerugian, kemalasan sosial, dan sebagainya. Namun sedihnya, pada kenyataannya banyak hubungan terjalin bukan  karena kepekaan satu sama lain melainkan keterpaksaan, misalnya karena kebetulan satu tempat kerja, dan masih banyak contoh lainnya.

Menurut Martin Buber, melalui karyanya Ich und Du (1923), menuturkan bahwa manusia dapat mengambil dua sikap terhadap dunia, yakni Aku-Itu ; hubungan subjek terhadap objek; dan Aku-Engkau: relasi subjek dengan subjek. Hendaknya relasi Aku-Engkau menjadi dasar dalam pembentukan hubungan sosial antarkaryawan dalam ranah kerja-dalam hal ini, Pendidik dan Tenaga Kependidikan di lingkup sekolah kita maupun Yayasan kita. Sebab pada dasarnya, setiap orang merupakan bagian dari sesamanya, yang fitrahnya untuk saling mencintai.

Dengan demikian, mewujudkan home dalam lingkup sekolah bukan suatu hal yang mustahil dicapai. Sebab dengan kepekaan antarpribadi, sekolah bisa menjadi tempat yang nyaman, bagai sebuah rumah, home, yang mengikat penghuninya dalam temali imaji kekal.(Rosmawati Nainggolan, S.Pd.,Pendidik SMA Santa Maria)