Back to Home Page

Penyerahan Buku Ujian : Harapan Penunjang Sistem Pembelajaran

Terhitung mulai tahun ajaran 2017, SMA Santa Maria menerapkan sistem baru dalam kegiatan belajar-mengajarnya. Selama ini, pembelajaran terpusat pada penanaman materi sebelum mengujinya dalam minggu khusus. Namun, setiap sistem tentunya memiliki kekurangannya masing-masing. Melalui berbagai pengkajian, akhirnya SMA Santa Maria mengadakan sistem baru di mana pengujian dilakukan setelah penyampaian materi pada pertemuan berikutnya.

Tetapi, sistem ini pun ternyata memiliki kekurangan. Peningkatan jumlah ulangan berarti peningkatan jumlah kertas. Peserta didik terpaksa merobek buku tulisnya sendiri untuk menyediakan kertas kosong, dan peserta didik tidak dapat mempelajarinya kembali.

Hal ini tidak luput dari perhatian sekolah. Atas dasar itulah, SMA Santa Maria menggagas ide untuk mencetak buku tulis yang nantinya akan dijadikan buku ulangan. Buku tulis yang didesain khusus ini menjadi hadiah dari sekolah kepada peserta didik yang diberikan melalui acara penyerahan khusus.

j5

Sabtu, (14/10), peserta didik telah berkumpul di lapangan utama SMA Santa Maria untuk menyaksikan penyerahan simbolis buku tulis tersebut. Penyerahan diberikan staff kurikulum, Ibu Norita, S.Pd., mewakili Bapak Kepala Sekolah yang berhalangan hadir di tempat karena beliau sedang ada rapat. Tiga peserta didik telah ditunjuk sebagai perwakilan dari masing-masing angkatan untuk menerima buku sesuai jumlah seluruh peserta didik kelas X, XI, XII.

Sebelum penyerahan, Ibu Norita menyempatkan diri menyampaikan maksud dan tujuan sesungguhnya dari pembagian buku tulis ini. Bukan hanya sebagai wadah pengujian materi, sekolah berharap buku ini mampu menjadi panduan bagi peserta didik dalam belajar.

“Melalui buku tulis ini, kalian bisa belajar dengan melihat kembali soal-soal yang telah dikerjakan,” ujarnya di hadapan ratusan peserta didik. “Kalian juga dapat melihat hasil ujian kecil setiap kalinya [untuk mengecek] apakah [nilainya] meningkat atau menurun.”

j6

Ibu Norita juga menegaskan, demi menghindari kesalahpahaman, bahwa pemberian buku tulis ini sepenuhnya gratis. Sekolah sudah membayarkan buku tersebut melalui alokasi dana BOS, sehingga peserta didik tidak perlu pusing memikirkan biaya.

Akhir kata, Ibu Norita menyisipkan beberapa pesan kepada peserta didik.

“Ada sebuah mata uang yang selalu berlaku di setiap masa. Itu adalah ilmu dan keterampilan. Jika kalian tidak memiliki keduanya, maka kalian tidak bisa membeli apa pun. Dan kedua, belajarlah dari hal-hal kecil setiap hari secara rutin. Lakukan peningkatan kecil setiap harinya, maka hal itu akan berarti banyak beberapa tahun yang akan datang. Saya harap, kalian menjadikan buku ini sebagai sahabat kalian.”

Penyerahan simbolis ini berlangsung singkat saja. Terhitung pukul delapan pagi, peserta didik dipersilakan kembali ke kelasnya masing-masing untuk menerima pembagian buku. Dengan harapan, buku tulis yang mengemban banyak harapan ini mampu menjadi pendamping terbaik dalam menjalankan sistem pembelajaran yang lebih baik lagi.