Back to Home Page

Mengukir Kisah dalam Tujuh Hari

Menanam bibit, memelihara tunas, memanen padi, memberi makan ternak, mengolah kotoran ternak, dan masih banyak lagi. Kegiatan-kegiatan ini tentunya menjadi kesempatan langka yang rata-rata baru pertama kali dicicipi oleh siswa-siswi SMA Santa Maria melalui kegiatan tahunan Educational Trip. Tahun ini, SMA Santa Maria kembali memboyong siswa-siswi kelas 12-nya menuju Muntilan, Jawa Tengah untuk menikmati bagaimana rasanya tiga hari menjadi anak-anak desa. Lalu, akan dilanjutkan dengan menghirup dua hari satu malam angin Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Kegiatan ini akan dilaksanakan dari 19 hingga 25 September 2017.

Memang, keputusan SMA Santa Maria untuk kembali membawa siswa-siswi kelas 12-nya mengikuti kegiatan Live In inimenciptakan pro dan kontra antar siswa-siswi dan orang tua. Banyak siswa-siswi yang lebih memilih sekadar liburan seperti dua-tiga tahun yang lalu daripada mengikuti kegiatan Live In. Namun, terbukti hampir seluruh pandangan negatif dan sisi kontra yang dicetuskan bisa ditepis dengan mulus seiring berjalannya kegiatan Live In.

Meninggalkan Pekanbaru

1                2

 

3                4

Seratus dua belas siswa-siswi SMA Santa Maria yang mengikuti Live Indibagi dalam 3 kelompok besar. Ketiga kelompok berangkat pada Selasa, 19 September 2017. Kelompok pertama diterbangkan pukul 12.05 dari bandara Sultan Syarif Qasim II dan tiba di bandara Soekarno Hatta pukul 13.55. Kelompok kedua dan ketiga diterbangkan pukul 17.00 dan tiba di Jakarta pukul 18.45. Setelah tiba di Jakarta, kelompok pertama diberi kesempatan untuk menjelajahi ITC Cempaka Mas Jakarta sembari menunggu kedatangan kelompok kedua dan ketiga. Nantinya, kelompok kedua dan ketiga yang sudah tiba di Jakarta akan langsung berangkat dari bandara Soekarno Hatta menujurest area(tempat makan) yang dijadikan tempat pertemuan ketiga kelompok. Perjalanan menuju rest area memakan waktu sekitar3 jam.

Perjalanan Menuju Muntilan

Kelompok pertama yang sudah tiba di rest area menikmati makan malam dan beristirahat sembari menunggu kedatangan kelompok lain. Kelompok kedua dan ketiga yang datang kemudian ikut menyantap makanmalam dan beristirahat sejenak. Tepat pukul 24.00,ketiga kelompok berangkat bersamaan dari rest area menuju Muntilan dengan bus masing-masing. Perjalanan  menuju Muntilan memakan waktu kurang lebih 10 jam. Karena lelah, peserta Live In terlelap di bus selama perjalanan. Keesokan harinya, pukul 06.00, kami singgah di salah satu rumah makan untuk menikmati sarapan dan beristirahat. Setelah kurang lebih 1 jam, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Muntilan.

5       6

7       8

 

Selamat datang di Desa Ngargomulyo!

Peserta Live In tiba di Muntilan, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Ngargomulyo pada Rabu, 20 September 2017 sekitar pukul 10.00. Peserta Live In disambut dengan begitu hangat oleh tim ETM (Educational Trip Muntilan) dari Muntilan. Tidak membuang-buang waktu, acara sambutan singkat pun dimulai di salah satu ruangan terbuka di desa itu. Diawali dengan doa bersama, lalu dilanjutkan dengan sepatah dua patah kata oleh perwakilan tim ETM Muntilan dan pendidik SMA Santa Maria, Pak Sarbon Manik. Selanjutnya, dilakukan penyerahan peserta didik SMA Santa Maria kepada tim ETM yang diwakili oleh sepasang peserta Live Insebagai simbolis.

Tim ETM Muntilan menjelaskan tentang keadaaan desa,gambaran umum kegiatan yang akan dilakukan selama di desa ini, dan penanggung jawab masing-masing dusun. Agar lebih konsentrasi dan fokus dalam mengikuti kegiatan Live In, maka seluruh alat komunikasi peserta Live In dikumpulkan dan disimpan oleh para pendamping sekaligus pendidik SMA Santa Maria. Hanya kamera yang boleh dipegang oleh peserta.

Ada 9 dusun yang ditempati oleh peserta Live In dari SMA Santa Maria, yaitu Dusun Tangkil Kulon, Tangkil Wetan, Bojong, Ngandong, Gemer Kulon, GemerWetan, Batur Duwur, Braman, dan Sabrang.

Peserta Live In dipencar menuju penanggung jawab dusun masing-masing, lalu dibawa berjalan kaki menuju dusun masing-masing.Setibanya di dusun, kami diberitahu tinggal di rumah siapa, lalu kami pun menuju ke rumah kami masing-masing.Tuan rumah dengan sumringah menyambut kedatangan kami dan langsung menyuguhi kami berbagai kudapan dan segelas teh hangat. Sembari beristirahat, kami bercerita dan berkelakar bersama si pemilik rumah.

Kegiatan hari pertama ini tidak begitu berat, tergantung pada masing-masing keluarga. Malamnya, ada sharing bersama keluarga masing-masing untuk mengenal lebih dalam satu dengan yang lain, dilanjutkan dengan istirahat malam. Intinya, kegiatan pada hari pertama fokus pada intern keluarga.

9       10

 

11        12

 

Jejak Pangan

Pasti banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa dibalik sesuap nasi yang kita makan setiap hari terkandung perjalanan yang sangat panjang. Mulai dari penanaman bibit tanaman padi, pemupukan, pemanenan, penjemuran, dan penggilingan hingga dihasilkannya butir-butir beras. Proses ini memakan waktu sekitar 3 sampai 6 bulan, belum terhitung gagal panen baik karena pengaruh cuaca dan musim maupun karena serangan hama dan penyakit.Hari kedua di DesaNgargomulyo ini,diawalidengankegiatan jejakpanganyang dimulaipukul 08.00.

Kami diajak turun langsung ke dalam kubangan sawah yang berlumpur untuk menanam bibit tanaman padi, dilanjutkan dengan memupuki, dan memanen tanaman padi. Kesan pertama saat melihat dan memasuki kubangan lumpur tentunya jijik dan waswas karena pasti banyak hewan-hewan yang bersemayam di bawah sana. Namun, setelah merasakannyasecara nyata, hal itu tidak seburuk yang kita pikirkan.

Kami dibawa menuju sawah yang umur tanamannya sudah beberapa hari dan beberapa bulan untuk melihat perubahan pertumbuhan tanaman padi. Kami juga diajak untuk memanen tanaman padi dan melepaskan bulir-bulir padi dari tangkainya, yang nantinya akan dijemur dan digiling untuk menghasilkan butir-butir beras. Nah, beras itulah yang kita masak dan kita santap sehari-hari.

Apakah kalian masih mau buang-buang nasi atau menyisakan makanan setelah tahu besarnya perjuangan para petani untuk memberi kalian makan?

13          14

 

Belajar Wirausaha dan Seni dari Budaya Lain

Masih pada hari kedua, kegiatan berikutnya adalah home industrydan latihan seni. Home industry yang diajarkan adalah cara membuat anyaman bambu. Sedangkan, latihan seni yang diajarkan adalah seni tari. Tarian yang diajarkan pada masing-masing dusun berbeda satu dengan yang lainnya.

Setelah istirahat selama hampir 2 jam, sekitar pukul 12.00, peserta Live In berkumpul di tempat yang telah ditentukan pada dusun masing-masing untuk memulai kegiatan home industry. Tentu kita sering melihat pedagang sate mengipas-ngipas daging satenya di perapian agar cepat matang. Nah, kipas itulah yang kami buat di sini dengan media bambu. Awalnya, batang bambu yang masih panjang dipotong-potong per ruas dan dibelah sampai halus agar bisa dianyam. Kemudian, kami dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan diajarkan bagaimana caranya menganyam. Di sinilah tampak kerjasama antar individu dalam kelompok untuk menghasilkan suatu karya yang layak pakai dan jual.

15           16

 

17           18

 

 

 

 

 

 

Karakteristik budaya dalam suatu wilayah salah satunya dapat dilihat dari seni yang didemonstrasikannya. Desa Ngargomulyo dengan bangga menunjukkan dan membagikan salah satu seni daerahnya, seni tari, kepada para peserta Live In. Peserta Live In dengan tekun dan serius mengikuti gerakan-gerakan yang diajarkan pelatih masing-masing dusun. Tarian ini nantinya akan ditampilkan oleh peserta Live In tiap dusun dalam malam pentas seni.

19          20

 

Sharing Bersama Tim ETM dari Muntilan

Kegiatan Kamis, 21 September 2017 diakhiri dengan sharing bersama tim ETM masing-masing dusun. Malam harinya, sekitar pukul 18.30, peserta Live In berkumpul kembali di salah satu rumah dalam dusun masing-masing. Di sini, kami membagikan pengalaman, perasaan, kesan dan pesan, serta nilai-nilai yang dapat kami ambil selama 2 hari berada dalam kehidupan yang tak biasa ini.

Berbagai perasaan dan kesan terutarakan dalam sharing malam ini. Senang, haru, sedih, semuanya bergabung menjadi satu yang membuat kami benar-benar memaknai arti Live In. Banyak pengalaman dan nilai-nilai yang kami peroleh selama tinggal di Desa Ngargomulyo ini. Yang awalnya kelihatan tidak menarik dan membosankan, tetapi Live In inilah bentuk nyata dari kehidupan. Lebih dari sekadar berlumpur-lumpur di sawah dan berpanas-panas di bawah terik matahari, namun di balik semua itu terkandung makna yang lebih dalam tentang hidup dan mempertahankan kehidupan.

Bahkan, beberapa peserta Live In sampai menitikkan air mata dalam sharing karena saking terharunya mendengar dan menceritakan berbagai pengalaman selama Live Indibandingkan dengan kehidupan di kota. Sharing berakhir pukul 21.00 dengan suasana yang mengharukan.

21         22

 

Kaki Melangkah, Alam Disebrangi

Bagi kebanyakan anak-anak kota besar, alam sudah tidak menjadi sahabat karib yang senang disabangi.Namun, kali ini kami mendapat kesempatan untuk menjalin kembali keakraban yang sudah lama tidaktertuai. Memulai kegiatan hari ketiga tepat pukul 08.00, peserta Live In diharuskan menempuh medan yang baru. Mulai dari jalanan curam dan tidak rata, sungai kecil yang berbatu hingga tangga licin dengan siraman derasnya aliran sungai sekitar Merapi.

Menempuh sekitar 2 kilometer perjalanan, diawali dengan menuruni jalanan berbatu untuk sampai kesalah satu sungai kecil yang masih dialiri air jernih.Peserta Live In disambut oleh dingin dan jernihnya air pegunungan. Dengan diarahkan oleh penanggungjawab tiap dusun, kami diajak membuat puisi dan doa sebagai ucapan syukur terhadap keberadaan air. Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, air yang dipuji dan diperlakukan dengan baik akan menghasilkan kristal-kristal dan ion-ion positif.

Beberapa di antara kami juga harus bertelanjang kaki untuk menyusuri aliran sungai dangkal yang berbatu, kegiataninidisebutdenganbaby step. Selanjutnya, kami berjalan lagi menyusuri jalanan berbatu tidak rata dengan berbagai tanaman-tanaman tinggi, menitih beberapa tangga bambu licin dengan guyuran derasnya aliran air sungai dari atas. Diliputi rasa letih, peserta Live In dihiburdengan selingan game-gameyang melatih konsentrasi, kekompakan, kerjasama, dan rasa syukur.

Langkah demi langkah kami tempuh, kami pun sampai pada jalan sempit yang dibatasi 2 tebing besar. Pada saat melewai jalan itu, kami dihimbau untuk tenang dan tidak bersuara apapun yang kami rasakan di sepanjang jalan tersebut.Perjalanan dilanjutkan lagi hingga tiba di suatu titik perkumpulan. Semua peserta Live In dari masing-masing dusun berkumpul di sana. Di titik temu itu kami diberi makan siang, yaitu nasi doa, yang artinya nasi yang telah didoakan para petani. Setelah itu, kami berfoto bersama lalu kembali ke dusun masing-masing untuk istirahat. Kegiatan jelajah alam berakhir pukul 13.30.

23          24

 

25          26

 

Malam Pentas Seni Sebagai Malam Akhir Kebersamaan

Setelah beristirahat sejenak, kami melaksanakan gladi bersih seni tari untuk acara pentas seni pada malamnya. Pukul 18.00, masing-masing dusun sudah bersiap-siap dengan berbagai pernak-pernik dan pakaian tarinya.Setelah memakai pakaian tari dari masing-masing dusun, kami pun berangkat menuju tempat pelaksanaan pentas seni, yaitu Gereja Tangkil dengan dijemput oleh pick up.

            Acara pentas seni dimulai pukul 19.30, diawali dengan doa pembuka, sambutan dari tim ETM Muntilan, dan penampilan musik dari beberapa masyarakat di sana. Selanjutnya, Peserta Live In masing-masing dusun menampilkan seni tari yang sudah diajarkan sebelumnya oleh penanggung jawab masing-masing dusun. Acara berlangsung lancar dan meriah. Peserta Live In dan masyarakat desa berbaur menjadi satu menikmati malam kebersamaan terakhir.

Di penghujung acara, tim ETM memberi kesan dan pesan sekaligus permohonan maaf kepada peserta Live In. Mereka senang sekaligus bangga menerima kami selama 3 hari ini yang dengan sungguh-sungguh mengikuti kegiatan Live In dan membuka tangan selebar-lebarnya bila suatu saat nanti kami kembali ke sana. Sebagai penutup, dilakukan penyerahan kembali peserta didik SMA Santa Maria dari tim ETM Muntilan ke pihak sekolah yang diwakili oleh sepasang peserta Live Insebagai simbolis.

Alat komunikasi peserta Live In dikembalikan dan peserta Live In diantar kembali ke dusun masing-masing untuk berkemas-kemas barang dan beristirahat karena besok pagi akan meninggalkan desa Ngargomulyo tercinta ini.

 

Sayonara, Sampai Berjumpa Kembali

Tidak terasa 3 hari pun berlalu. Sabtu, 23 September 2017 menjadi hari terakhir Live In kami di Desa Ngargomulyo. Usai sarapan, kami berpamitan dengan tuan rumah tempat tinggal kami masing-masing. Rasa sedih dan haru menyelinap ke dalam sanubari kami. Bukan  masalah kuantitas waktu yang dihabiskan, melainkan kualitas waktu tiga hari tersebut yang cukup mengajarkan kami untuk lebih memaknai hidup. Hidup dengan penuh kesederhanaan, saling bertegur-sapa, tidak diskriminasi, kepercayaan yang tinggi antar sesama, saling mengenal antar masyarakat bahkan sampai  3 generasi, dan masih banyak nilai-nilai lain yang tidak dapat terungkap seluruhnya di sini, namun akan tetap terukir di dalam hati dan pikiran kami.Masyarakat desa tidak terlalu memuja uang. Jika ada uang berlebih yang diperoleh dari hasil bertani dan home industry, maka digunakan langsung untuk membeli ternak dan dikembangbiakkan. Sungguh kehidupan yang bertolak belakang dengan kehidupan kota.

Dengan sejuta rasa, peserta Live In meninggalkan Desa Ngargomulyo pada pukul 08.00, melanjutkan perjalanan ke Borobudur.

Sayonara desa Ngargomulyo, sampai jumpa di lain waktu.

 

 

Dua Hari Satu Malam di Kota Yogyakarta

 

Rombongan SMA Santa Maria tiba di ‘salah satu dari tujuh keajaiban dunia’, Candi Borobudur, pada pukul 10.00 dan langsung disambut oleh teriknya matahari yang menikam kulit kami. Kami segera memamfaatkanpara penyedia sewa payung untuk menghindari terik matahari siang.

Mulailah kami menapaki satu demi satu anak tanggacandi untuk tiba di puncak Candi Borobudur. Menurut kepercayaan di sana, bila mengelilingi puncak borobudur sebanyak 3 kali sambil berdoa, maka permohonan kita dalam doa tersebut akan terkabul.

Dua jam lebih puas berada dalam dekapan Candi Borobudur, kami melanjutkan perjalan menuju nol kilometer kota Yogyakarta, yang  pasti sudah terkenal seantero Indonesia, yaitu kawasan Malioboro.Kami diberi kebebasan selama 3 jam di Malioboro untuk memcoba kuliner atau membeli cinderamata atau apapun yang ingin kami kunjungi.

Setelah itu, kami menuju salah satu rumah makan untuk santap malam. Dilanjutkan ke tempat rekreasi, yaitu Taman Pelangi. Taman Pelangi tampak indah dan menarik dengan berbagai lampu hias warna-warni yang menerangi gelap malam hari. Tidak hanya lampu warna-warni, di sana juga ada beragam permainan, seperti trampolin, mobil-mobilan, dan sepeda tandem yang dapat dinikmati pengunjung dengan membayar sewa.

Pukul 22.00 kami meninggalkan Taman Pelangi dan menuju hotel untuk check in dan beristihat. Namun, tak semua siswa beristirahat, ada yang memilih untuk berkumpul dan bersenda gurau bersama karibnya dan ada pula yang memilih untuk jalan-jalan di sekitar hotel ataupun memesan go-food. Ups.

Keesokan harinya, Minggu, 24 September 2017, pukul 10.00, kami check out setelah sarapan dan langsung menuju pusat oleh-oleh. Usai puas berbelanja, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Parangtritis. Di sana kami menikmati pasir pantai dan desiran ombak laut sembari mengabadikannya dalam foto.

Setelah puas merasakan suasana pantai, kami kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

 

Home Sweet Home, Pekanbaru

 

Kami tiba di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 09.30. Sambil menunggu embarkasi pukul 16.00, kami memanfaatkan waktu dengan mengelilingi bandara sekadar mencuci mata ataupun mencicipi makanan yang di jual di bandara.

Waktu berangkat yang semula pukul 16.00 didelay hingga pukul 20.00.Tepat pukul 20.00, pesawat take off dan landing di Bandara Sultan Syarif Qasim II tepat pukul 21.35. Tidak menunggu lama, kami mengambil bagasi dan bergegas pulang ke rumah masing-masing bersama keluarga yang telah menjemput kami. Lelah sekaligus senang kami rasakan, akhirnya kami kembali ke kota kediaman kami.