Back to Home Page

Live In 2017: DuaTempat Berbeda, Satu Tujuan yang Sama

Dua tahun belakangan, Live In telah menjadi kegiatan rutin SMA Santa Maria Pekanbaru, terkhusus bagi peserta didik kelas dua belas yang akan menempuh pendidikan kejenjang yang lebih tinggi .Live In sendiri adalah kegiatan yang berpusat pada pengembangan diri peserta didik ihwal relasi dengan Tuhan, sesama, alam, juga budaya. Rangkaian kegiatan ini diadakan di luar sekolah, tepatnya di Muntilan, Yogyakarta, pada 19-25 September 2017. Kendati begitu, tidak semua peserta didik memperoleh izin untuk pergi menyebrangi pulau. Untungnya, peserta didik yang tidak berkesempatan mengikuti kegiatan Live In ini masih bias memperoleh pembelajaran yang samamelaluibimbingan yang diberikan di sekolah.

Kegiatan bimbingan ini berlangsung di saat yang sama dengan Live In di Muntilan, dengan isi materi yang nyaris sama pula. Fokus pada bimbingan ini terarah pada teori pengembangan diri, yang demikian ditujukan untuk menyadarkan peserta didik akan pentingnya menjaga relasi dengan Tuhan, sesama, alam, juga budaya. Diikuti oleh kurang lebih duaratus peserta didik, kegiatan ini berlangsung selama jam belajar-mengajar, yakni pukul setengah delapan hingga pukul dua (pukul satu lewat lima belas menit di hari Kamis dan Sabtu, pukul dua belas lewat lima belas menit di hari Jumat), sehingga bias dikatakan tidak berbeda dengan hari-hari sekolah pada umumnya.

Selasa (19/9) menandai awal dimulainyakegiatan ini, yang berlangsung di aula lantaitiga SMA Santa Maria Pekanbaru. Bimbingan dibuka oleh pidato dari KepalaSekolah, yang meski panjang mampu mengait perhatian peserta didik karena keatraktifan materi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga tidak monoton. Kegiatan diikuti penyampaian materi oleh guru-guru berkaitan dengan topik yang dimaksudkan. Tidak hanya membahas materi, menjelang akhir bimbingan, peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok dan diberi tema budaya masing-masing, yang mana akan ditampilkan di hari terakhir bimbingan.

Ada yang unik dalam kegiatan ini. Demi menjaga kefokusan, serta menyeimbangkan agar materi yang disampaikan mangkus dan sangkil, peserta didik diharap mengumpulkan ponsel pintarnya ketika tiba di sekolah, dan baru dipersilakan menerimanya kembali ketika bimbingan telah selesai.

Bimbingan di hari Rabu (20/9) tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Materi yang disampaikan berkaitan dengan kecintaan pada alam serta peremajaan pada sesama manusia.

Baru di hariJumat (22/9) lah kegiatan mulai beralih dari penyampaian materi menjadi praktik. Sebelumnya, peserta didik diminta untuk membawa peralatan berkebun. Menyesuaikan dengan praktik peserta didik lain yang juga bercocok tanam di Muntilan, kegiatan di Pekanbaru menyangkut menanami area sekolah dengan tanaman-tanaman hijau. Praktik ini tentunya ditujukan untuk mengajarkan kecintaan pada alam sekitar.

Pun dengan Sabtu (23/9), peserta didik ikut serta dalam kegiatan membersihkan lingkungan sekolah, mulai dari melap kaca jendela, membersihkan toilet, dan segala kegiatan pembersihan lainnya. Kegiatan ini tidak lain untuk membentuk karakter peserta didik agar senantiasa mencintai kebersihan dan memberdayakan hidup sehat di lingkungan sekolah, yang notabenenya merupakan tempat menghabiskan waktu paling banyak.

Tepatnya Senin (25/9), kegiatan ini mencapai antiklimaks, di mana selain penutupan, diadakan juga penampilan dari tiap-tiap kelompok. Di hari-hari sebelumnya, sekitar sejam sebelum kegiatan bimbingan selesai, peserta didik diberikan waktu untuk berlatih bersama anggota kelompoknya mengenai penampilan yang akan disajikan. Latihan itu menjadi persiapan pada hari penutupan. Sesuai dengan budaya yang sudah ditentukan, tiap kelompok  menampilkan baik itu tarian, jugan yanyian.

Penutupan disertai dengan refleksi mengenai materi yang sudah disampaikan sebelumnya, dengan harapan agar semuanya itu dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai tambahan, para pendidik rupanya telah menyiapkan beberapa bingkisan bagi peserta didik yang setia mengikuti kegiatan bimbingan dari awal sampai akhir—yang dilihat melalui penandatanganan kertas absen—sebagai bentuk apresiasi dan harapan agar niat baik itu tidak  akan terhenti sampaikapan pun.

Bersamaan dengan kembalinya peserta didik dari kegiatan Live In di Muntilan, kegiatan bimbingan di Pekanbaru ditutup secara resmi setelah berdentangnya bel tanda berakhirnya jam belajar-mengajar. Terhitung Selasa, (26/9), peserta didik kembali belajar seperti biasa, namun bukan lagi dengan pribadi lama. Dengan kegiatan ini, baik di Muntilan maupun Pekanbaru, peserta didik telah dibekali dengan pendidikan moral yang, generasi penerus bangsa Indonesia nantinya.