Back to Home Page

Geladi Kepekaan terhadap Diri Sendiri, Lingkungan, dan Sesama

BULAN September 2016 menjadi bulan yang padat bagi civitas akademika SMA Santa Maria Pekanbaru. Sebagian besar peserta didik kelas 12 berangkat ke Muntilan dan Yogyakarta dalam kegiatan live-in, dan sebagian lagi rekoleksi di sekolah dalam pembinaan karakter.

Educational Trip 2016

Educational Trip pada tahun 2016 berlangsung di Muntilan, Jawa Tengah dan juga Yogyakarta dengan memadukan konsep live-in dan wisata. Kegiatan live-in merupakan hal yang baru di tahun ini dalam perjalanan Educational Trip di SMA Santa Maria Pekanbaru.

Live-in merupakan kegiatan yang dirancang sedemikian rupa, sehingga pesertanya hidup dan berinteraksi langsung dengan masyarakat umum yang berbeda. Berbeda dalam konteks ini adalah berbeda dari sisi status sosial, ekonomi, dan budaya.

Di live-in yang ditaja oleh panitia Santa Maria Educational Trip tahun ini, peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok dan tinggal di rumah penduduk dusun yang menjadi tuan rumah. Peserta selama 4 hari, mulai tanggal 25 hingga 28 September 2016 hidup dan menjadi bagian dari keluarga masyarakat di sana. Peserta dilatih beradaptasi, merasakan keseharian, belajar hal-hal baru, dan berbagi dengan masyarakat setempat dengan kemampuan yang mereka miliki.

Tidak ayal, peserta yang semula hanya hidup di dalam perkotaan, merasakan pengalaman baru yang begitu luar biasa. Selain diisolasi dari gadget, peserta juga merasakan bagaimana hidup mandiri, tanpa kemewahan dan kepraktisan yang biasanya dirasakan di rumah dengan sokongan orangtua. Banyak life skills dan social experience yang didapat termasuk peserta dituntut untuk disiplin, bertenggang rasa, peka, dan melibatkan diri dengan orang lain.

Live-in dapat menjadi sarana pendidikan multikulturalisme yang efektif dan tepat sasaran, di mana pendidikan multikultural sangat penting dan menjadi tema utama dalam rangkaian kegiatan ulang tahun ke-60 Sekolah Santa Maria Pekanbaru. Dalam kegiatan live-in, peserta diharapkan mampu membaurkan diri dengan mengesampingkan segala perbedaan baik sesama peserta maupun tuan rumah. Peserta dan tuan rumah saling bahu-membahu, berinteraksi dan berlatih untuk menghilangkan sifat egonya dalam melakukan berbagai tugas dan arahan dari panitia.

Educational Trip yang telah dilaksanakan sejak 2011 ini, memiliki esensi utama melatih karakter, mental, dan kepribadian pesertanya yang tidak cukup didapatkan hanya di sekolah saja. Peserta diharapkan dapat membuka mata dan membuka diri untuk tidak takut akan perubahan, serta dapat menggapai cakrawala wawasan baru bahwa sesungguhnya masih banyak hal-hal di luar sana yang perlu diketahui. Dengan berwisata dan mengunjungi daerah-daerah Indonesia juga dapat menumbuhkan rasa cinta dan bangga kepada negeri ini di dalam segala keindahan dan kemajukannya yang bahkan tidak disadari.

Recollection 2016

Di Pekanbaru, bagi peserta didik kelas 12 yang tidak mengikuti Educational Trip 2016, berpartisipasi dalam kegiatan pembinaan karakter yang biasanya dikemas sebagai Santa Maria Recollection.

Dengan konsep yang hampir sama dengan live-in di Muntilan, peserta diajak untuk peka dan peduli. Bedanya adalah jika di Muntilan peserta berinteraksi sosial dengan masyarakat dan orang lain, maka di Pekanbaru peserta berinteraksi dengan lingkungan dan sesama teman.

Peserta diajak untuk melakukan kampanye kebersihan dan penghijauan di lingkungan sekolah. Dengan didasari semangat team work yang menjadi salah satu kunci kehidupan bermasyarakat, kerja bakti menjadi salah satu acara yang diikuti.

Membawa peralatan sendiri dari rumah, peserta dibentuk untuk sadar dan peka akan pentingnya memperhatikan lingkungan di sekitar kita. Lingkungan di mana peserta menjadikannya sebagai rumah kedua harus dirawat, dijaga, dan dilestarikan bersama-sama agar selalu bersih, hijau, dan nyaman.

Peserta mendapatkan materi mengenai budaya malu dan perasaan bersalah. Di masa sekarang ini, budaya malu seolah-olah semakin luntur dan berkebalikan dengan rasa malu yang seharusnya. Banyak orang yang tidak lagi merasa malu jika berbuat kesalahan. Justru sebaliknya, merasa segan dan rendah apabila melakukan sesuatu yang baik.

Sebagai contoh paling nyata adalah kerja bakti membersihkan halaman dan WC. Banyak peserta didik bahkan pandangan masyarakat umum sekarang, yang menilai membersihkan halaman dan WC adalah sebuah bentuk hukuman yang terasa memalukan. Termasuk memungut sampah yang ditemukan di tengah jalan.

Sebaliknya, apabila peserta didik menyontek dan berbuat curang dalam ulangan, justru terasa biasa dan tidak lagi memalukan. Bahkan karena kebiasaan, perasaan bersalah pun tidak lagi tampak. Malah mereka justru bangga jika berhasil melakukannya.

Sebuah anomali yang harus disadarkan dan diluruskan kembali. SMA Santa Maria Pekanbaru sebagai institusi pendidikan yang intensif mendidik dan menumbuhkembangkan peserta didik secara holistik, baik secara akademik maupun mental dan karakter, merasa perlu menjadi agen perubahan dalam menyadarkan hal tersebut.

Bulan Kitab Suci Nasional

Rangkaian kegiatan Educational Trip dan Recollection 2016 berlangsung di bulan September 2016 yang juga merupakan Bulan Kitab Suci Nasional.

Seluruh rangkaian kegiatan dimulai dengan misa pembukaan yang diikuti seluruh peserta didik dan berlangsung sebelum keberangkatan rombongan ke Muntilan dan Yogyakarta. Kemudian setiap harinya, selama kegiatan di Pekanbaru juga dibuka dengan misa bagi umat Katolik dan ibadah oikumene bagi peserta non-Katolik.

Pada akhir kegiatan, tepatnya 1 Oktober 2016, dilaksanakan misa penutupan yang dipimpin oleh juga mengawali Bulan Maria yang diperingati di bulan Mei dan Oktober setiap tahunnya.

Konklusi

Ibu Dewi Magdalena, wakil kepala SMA Santa Maria Pekanbaru bidang kesiswaan, menyampaikan panjang lebar sekaligus apresiasi terhadap kegiatan-kegiatan yang diikuti peserta didik ini. Ditemui di ruang kerjanya, beliau menjelaskan pentingnya program ini dalam menumbuhkan karakter peserta didik.

“Nilai akademik adalah penting, namun bagaimana peserta didik memiliki karakter, mental, dan kepribadian yang baik jugalah penting dan menjadi perhatian kita,” tutur Ibu Dewi yang juga mendidik bidang studi Biologi ini.

“Dengan kegiatan-kegiatan ini, peserta dikembangtumbuhkan dalam nilai-nilai Katolik untuk peka terhadap dirinya sendiri, lingkungan, dan sesama. Di mana peserta harus sadar dan dapat menempatkan diri untuk peduli, belajar, maupun saling berbagi.” *** (StM)

Tags: , , , ,