Back to Home Page

Diskusi Panel Dies Natalis: Multikultural adalah Kekuatan Kita

SELASA kemarin (26/7), bertempat di ruang serbaguna SMA Santa Maria Pekanbaru, ratusan pendidik dan tenaga kependidikan Sekolah Santa Maria Pekanbaru hadir dalam Diskusi Panel sebagai rangkaian kegiatan Dies Natalis Sekolah Santa Maria Pekanbaru dan ulang tahun ke-60 SD Santa Maria.

Diskusi panel ini dihadiri oleh unit-unit Sekolah Santa Maria Pekanbaru di bawah Yayasan Prayoga Riau, meliputi TK, SD 1, SD 2, SMP, dan SMA. Turut hadir ketua pengurus yayasan, RD Anton Konseng, Pr, M. Sc yang menjadi pembicara dan penasihat. Juga Bapak Paskalis Florento sebagai kepala SMA Santa Maria Pekanbaru, dan kepala sekolah unit-unit Koordinatorat Pekanbaru. Tema yang diangkat adalah pentingnya pemahaman dan pendidikan multikultural dalam lingkungan sekolah sejak dini.

Bapak Ferdinandus Nipa, selaku Koordinator Sumber Daya Manusia dalam kegiatan ini mengungkapkan bagaimana Sekolah Santa Maria Pekanbaru merupakan unit pendidikan yang multikultural yang dibuktikan dengan beragamnya suku bangsa, agama, dan budaya yang dibawa oleh peserta didik. Kebhinnekaan Indonesia yang ada dengan berbagai keberagaman, hadir dalam lingkungan sekolah yang sudah berdiri sejak 1956 ini.

Sebagai sekolah berbasis pengajaran Katolik, Sekolah Santa Maria memang selalu menunjukkan inklusivitas dalam pendidikannya. Hal ini terlihat dari keberagaman peserta didik yang berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang, namun selalu dapat berbaur dan tidak dibeda-bedakan.

Selain itu pendidikan di Sekolah Santa Maria juga harus mengajarkan kepada peserta didik bahwa perbedaan baik itu suku, agama, dan ras adalah anugerah dari Tuhan. Sebagai bangsa yang besar, seluruh pihak harus menjaga dan menyukuri keberagaman ini karena telah diamanatkan dalam Pancasila dan undang-undang negara.

Bapak Romo Anton Konseng selaku Ketua Pengurus Yayasan Prayoga Riau, juga turut menggarisbawahi bahwa pentingnya pendidikan multikultural ini sesuai usianya. Sejak dini dari usia TK peserta didik harus mulai diperkenalkan tentang multikultural. Kemudian di tingkat SD peserta didik dibiasakan tentang hidup dalam lingkup multikultural.

Karena ditinjau dari sisi psikologi, anak-anak usia TK dan SD ini cenderung berperilaku imitasi dari lingkungan di sekitarnya. Sehingga para pendidik dituntut untuk menunjukkan prilaku global dan memberikan contoh yang baik kepada anak didik. Pengenalan dan pembiasaan hidup bermultikultur dan berperilaku global di tahap inilah yang akan menentukan sifat pluralisme seseorang ke depannya.

“Keadaan yang multikultural ini adalah kekuatan Sekolah Santa Maria Pekanbaru dalam mendidik anak-anak Indonesia. Sekolah Santa Maria merupakan maket dari kebhinnekaan dan keberagaman Indonesia yang memiliki banyak sekali suku, adat, dan budaya sehingga lulusannya diharapkan memiliki cara berpikir yang terbuka, luas, dan berwawasan global untuk bersaing di tengah peradaban dunia,” tambah Bapak Ferdinandus Nipa.

Diskusi panel ini sendiri diselenggarakan sebagai yang kedua kalinya. Tujuannya adalah untuk menajamkan dan memfokuskan prinsip serta kualitas standar operasional pendidik dan tenaga kependidikan Sekolah Santa Maria Pekanbaru. Dalam usianya yang ke-60, Sekolah Santa Maria Pekanbaru terus memantapkan diri untuk berjalan maju dalam semangat multikultural, seiring juga dengan visi Yayasan Prayoga Riau untuk mendidik insan Indonesia dalam menghayati kebangsaindonesiaannya yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. (StM)

Tags: , , , , , ,