Back to Home Page

SMAFENTION 2016: Mencintai Budaya, Menyeimbangkan Nusantara (Hari ke-3)

KEBUDAYAAN senantiasa memancarkan keindahan yang abadi. Ketika kita menjaga kebudayaan Nusantara, baik asli Indonesia, maupun kebudayaan yang datang dan berkembang di Indonesia, kita telah menjaga keharmonisan dan membuat hidup di Nusantara menjadi lebih seimbang.

Kemajemukan Indonesia, merupakan harta yang tak ternilai oleh suatu apa pun. Orang muda, haruslah memiliki daya semangat yang tinggi dalam menjaga, melestarikan, dan menghargai kebudayaan Indonesia.

Semangat itulah yang diangkat dalam Pentas Seni Budaya SMAFENTION 2016, yang diselenggarakan pada Jumat, 15 Juli 2016 beberapa waktu lalu. Pentas seni ini diikuti oleh semua calon peserta didik kelas 10, yang dibagi ke dalam 8 kelompok. Setiap kelompok telah dipersiapkan untuk menampilkan seni terbaik mereka oleh pendamping-pendamping kelompok mereka masing-masing, atau lebih akrab dipanggil “kakak dampok”. Tentunya, penampilan yang disuguhkan haruslah bertemakan kebudayaan Indonesia.

Sungguh beragam penampilan yang dibawakan oleh tiap kelompok. Mulai dari tari tudung saji, hingga nyanyian “Aku Papua”. Semua ditampilkan dengan sungguh-sungguh. Ada pula yang menampilkan tarian dari suku Tionghoa, dan medley lagu daerah, seperti Ampar-Ampar Pisang, Soleram, Lancang Kuning, Apuse, Yamko Rambe Yamko, dan lain sebagainya.

Adapun, yang menjadi juri dan penilai dari pentas seni ini adalah Ibu Agustina, Ibu Emilinda, dan Ibu Meriana. Ketiga juri amat terkagum dengan penampilan-penampilan yang disuguhkan oleh tiap-tiap peserta. “Memang, tidaklah ada yang benar-benar sempurna, namun hal itu wajar, karena waktu persiapan yang amat singkat,” ungkap Ibu Emilinda dalam penjurian umum kegiatan hari itu.

Setelah semua peserta menyuguhkan penampilan mereka, mereka diajak untuk sedikit ice-breaking sembari melepas tawa, dengan menyaksikan foto-foto mereka yang berhasil ditangkap oleh kamera-kamera paparazi dari panitia SMAFENTION 2016.

Kemudian, calon peserta didik diberi kesempatan untuk beristirahat, dan menikmati suguhan bubur kacang hijau yang telah disediakan oleh panitia. Setelah sedikit briefing dari kakak-kakak dampok, calon peserta didik kelas 10 pun diperbolehkan untuk pulang.

Yang amat dibutuhkan oleh Indonesia saat ini adalah, orang muda yang cinta akan budayanya. Ketika rasa cinta sudah tumbuh, maka akan tumbuh pula rasa memiliki dan keinginan untuk melestarikan budaya Indonesia. Semoga kita dapat menjadi insan-insan yang mencintai budaya Indonesia. (KvF)

Tags: , ,