Back to Home Page

Students Exchange 2015: Bertukar Ilmu dan Wawasan ke Negeri Jiran

DARI tanggal 8 hingga 16 Februari beberapa waktu lalu, SMA Santa Maria Pekanbaru mengirimkan 19 orang peserta didiknya sebagai perwakilan Indonesia untuk berangkat ke Negeri Jiran, Malaysia dalam kegiatan Santa Maria Students Exchange 2015.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 18_zpsrlcxee0k.jpg

Ke-19 peserta didik ini didampingi oleh dua orang pendidik bidang studi Bahasa Inggris yaitu Ma’am Norita Rismawati dan Ma’am Timria Malem. Perjalanan selama 1 minggu yang bertempat di Sunway International School (SIS) dan Canadian International Matriculation Programme (CIMP) telah membawa banyak hal baru untuk dibagikan kepada peserta. Mulai dari sistem pembelajaran, budaya, hingga hal-hal kecil seperti melatih diri untuk mandiri.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 7_zpsjaecshac.jpg

Ketibaan peserta dari Indonesia, yang dalam kesempatan ini salah satunya adalah SMA Santa Maria Pekanbaru di Subang pada tanggal 8 Februari 2015 lalu disambut oleh dua murid perwakilan dari Sunway University, seorang pengurus International Office di Sunway, dan seorang representatif dari International Education Services cabang Pekanbaru. Budaya luar yang begitu terkenal -ketepatan waktu-, sudah terasa sejak kedatangan. Bus yang menjemput peserta pertukaran pelajar tidak terlambat semenit pun. Ini merupakan salah satu hal yang patut ditiru; disiplin waktu.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 1_zpsuvxsprcg.jpg

Peserta yang terdiri dari: Donisius Axel Anggriawan, Sandra Ruberto, Ivana Karin, Kezia, Lidya Pandumas, Merry Juliana, Angela Tjung, Jinnie Wong, Melisa Canggra, Vicky Vendy, Thasia Fine, Patricia Chowanda, Godwin Richardjuro, Sandro Ruberto, Dyta Ghezhanny William, Eccel Gunawan, Viancqa Q Kurniawan, dan Vicky Irvan Rinaldi kemudian dibawa ke Sun-U Residence, yaitu tempat tinggal atau asrama untuk peserta selama seminggu berada di sana. Dari awal, sistem kerja dari officers-nya sudah menjadi hal yang menonjol. Tidak perlu waktu lama untuk mengatur begitu banyaknya peserta yang datang. Semuanya telah berbaris dan mengantri untuk mengambil kunci unit dan kamar langsung setelah diperintahkan.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 3_zps1aocixmf.jpg

Usai melakukan tur di sekitar asrama dan di sekolah Sunway International School atau SIS, rombongan peserta diajak untuk menghadiri welcome dinner dan berkenalan dengan beberapa murid yang tinggal di asrama Sunway, yang ternyata adalah murid multi-nasional, mulai dari Malaysia sendiri, Indonesia, Tiongkok, Jepang, Korea, Arab Saudi, India hingga Rusia.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 10_zpsu4jy4yfw.jpg

Keesokan harinya, tepat tanggal 9 Februari 2015 peserta students exchange mulai memasuki sekolah SIS dan CIMP. Sebanyak 35 peserta didik yang terdiri dari SMA Santa Maria Pekanbaru dan SMA Dharma Loka Pekanbaru dibagi sesuai tingkat kelas di sekolah asal, yang kemudian dikelompokkan menjadi 8 orang kelas 10 yang masuk ke SIS, dan 27 orang kelas 11 dan 12 lainnya masuk ke CIMP.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 14_zpsq0ifowlp.jpg

Menurut Viancqa Q Kurniawan, peserta didik kelas 10 SMA Santa Maria Pekanbaru yang turut dalam rombongan saat memberikan testimoninya, terdapat begitu banyak perbedaan antara Sunway International School dengan SMA Santa Maria Pekanbaru. Mulai dari hal sederhana seperti tiadanya apel pagi. Bila di Pekanbaru sekolah mengadakan apel pagi dan berbaris berkumpul, maka di sana sekolah membacakan informasi melalui pengeras suara yang diinstalasi pada setiap ruangan. Sehingga setelah bel berbunyi, semua murid di sana akan masuk ke kelas masing-masing dan duduk mendengarkan pegumuman.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 6_zpsxz6xscq6.jpg

Perbedaan mencolok lainnya adalah dalam peraturan tertera bahwa satu ruangan kelas hanya ditempati oleh maksimal 28 hingga 30 orang. Tetapi nyatanya, dalam kelas yang dimasuki, rata-rata hanya berkisar antara 10 hingga 20 orang saja. Alasan menurut salah seorang staff Sunway, adalah agar pendidik di sana dapat berinteraksi dengan murid lebih baik, dan pembelajaran dalam kelas merata serta lebih berkonsentrasi.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 5_zpsou1qs8rs.jpg

Selain itu, berdasarkan kurikulum dari Malaysia sendiri, murid hanya perlu memilih 4 hingga 5 mata pelajaran dalam 1 semester, yang akan dipelajari setiap harinya dari Senin hingga Jumat. Dan di hari Jumat, merupakan hari pengayaan untuk mengulas ulang pelajaran yang telah didapat dari Senin hingga Kamis sebelumnya.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 4_zps4xwfyclp.jpg

SIS dalam kegiatan pembelajarannya memang bersifat efisien dan terjadwal. Kegiatan untuk beberapa minggu ke depan selama satu semester sudah tersusun dan diinformasikan kepada murid. Tetapi, di sisi lain, mata pelajaran yang sehari-hari diberikan tidak sedalam yang dipelajari di SMA Santa Maria Pekanbaru.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 13_zpsr3qcw4qc.jpg

Dari pengalaman Viancqa ini, memang diakuinya bahwa SMA Santa Maria Pekanbaru lebih mementingkan materi dan konten pembelajaran yang diberikan, sedangkan Sunway International School lebih mengutamakan pendapat dan interpretasi murid terhadap suatu kasus. Kedua sekolah memang memiliki fokus dan cara yang berbeda karena perbedaan kurikulumnya, namun tetap saja, kedua sistem pembelajaran memiliki tujuan yang sama dalam mendidik murid-muridnya.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 9_zpsnddd88wu.jpg

Berada di sekitar peserta yang memiliki nasionalitas berbeda-beda selama seminggu membawa banyak pandangan bagi peserta pertukaran pelajar ini. Budaya adalah suatu contoh konkretnya. Budaya luar negeri yang lebih luwes dan blak-blakan menjadi sorotan. Mulai dari cara berinteraksi dengan guru, cara bersosial dengan teman-teman, bahkan cara berpakaian mereka, tidak begitu senada dengan Indonesia di mana masih menekankan nilai-nilai kehalusan dan kesopanan.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 16_zpsgjzi1zrr.jpg

Walaupun peserta mengalami sedikit cultural lag akibat perbedaan budaya, hal ini tidak mempengaruhi misi pembelajaran mereka ke Sunway. Hal terakhir yang penting adalah bahwa pembangunan karakter tidak semata-mata dialami peserta di sekolah saja, tetapi keseluruhan pengalaman ini telah mengajarkan satu hal yang paling penting. Disiplin. Disiplin waktu, disiplin dalam kerapian, disiplin dalam kemandirian, dan lagi-lagi, disiplin.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 17_zpsgsztjqac.jpg

Akhirnya, seperti sebuah pepatah yang berbunyi, “Jangan pernah berhenti belajar, sebab hidup tak pernah berhenti mengajar.” Peserta students exchange dari SMA Santa Maria Pekanbaru kembali mendapatkan banyak sekali hal-hal baru yang tidak ternilai harganya. Mereka semua setelah seminggu lebih berada di sana, yang pulang kembali pada Senin (16/2) menyadari bahwa pembelajaran yang diterima dalam waktu seminggu saja, sungguh merupakan pengalaman yang berharga dan dapat membuka mata terhadap dunia luar. Setidaknya menjelang pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun ini, yang secara holistik akan mempersiapkan mereka untuk melihat bagaimana kondisi dan potensi negara-negara di sekitar Indonesia.

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 15_zpstfwvzc6d.jpg
 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 11_zpskreuxue9.jpg

 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 12_zpssmnzego0.jpg
 photo SMA Santa Maria Pekanbaru SMSE2015 - Sunway 2_zpstalpcfis.jpg

Contributors: Viancqa Q Kurniawan
Dyta Ghezhanny William

Editor: Stephen Marlin
Photos: Viancqa Q Kurniawan
Dyta Ghezhanny William

Tags: , , , ,