Back to Home Page

Winter Camp 2014: Merasakan Sensasi Musim Dingin di Wuhan

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China” – Itulah yang kami, para Saints yang beranggotakan 14 orang rasakan selama dua minggu terakhir di negeri Tirai Bambu ini. Semua berawal dari keingintahuan kami akan negeri China (Tiongkok, Red.) yang terkenal akan panda yang lucu nan imut ini.

Dan, tadaaaa!!! Setelah seharian transit di Jakarta dan Hong Kong pada 15 Desember 2014, tibalah kami di Bandara Internasional Wuhan, salah satu kota terbesar di Tiongkok pada tanggal 16 Desember 2014. Sesampainya di bandara, kami langsung dijemput dengan bus menuju ke tempat peristirahatan, Future City Hotel. Semua beban baik fisik maupun batin langsung lepas seketika melihat keindahan kota Wuhan selama di perjalanan. Tidak lupa juga kami berselfie-ria sebagai kenang-kenangan pertama menginjakkan kaki di ibukota provinsi Hubei, Tiongkok ini. Setibanya di hotel, kami langsung makan siang dan diminta untuk beristirahat di kamar masing-masing karena besoknya akan ada banyak rangkaian acara yang menunggu kami.

Brrr!!! Pagi dengan suhu 1°C membuat kami para mamalia beriklim tropis harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang dinginnya tidak tertahankan. Tetapi hal itu tidak membuat kami patah semangat untuk menuju ke acara pembukaan di meeting hall yang letaknya sangat jauh dari hotel. Jaket kuning, syal, dan segala pakaian tebal telah kami siapkan untuk menghangatkan tubuh kami selama perjalanan.

Eiitt, tunggu dulu, meskipun letaknya sangat jauh dari hotel, namun tidak ada kendaraan khusus yang membawa kami ke sana. Kami semua dituntut untuk berjalan kaki mengikuti kebiasaan masyarakat Tionghua yang ada di sana. Hampir 80% adalah pejalan kaki, hanya saat berpergian jauh saja yang menggunakan kendaraan bermotor. Ini adalah salah satu cara untuk menjadikan Bumi kita semakin sehat.

Baik kembali ke topik, sesampainya di meeting hall, hal yang pertama kami lakukan adalah… Berfoto lagi! Serius. Ternyata yang dari Indonesia bukan hanya dari Riau saja, masih ada yang berasal dari Bali dan Garut. Rombongan Indonesia bersama 136 campers (sebutan untuk peserta Winter Camp, Red.) lainnya pun mulai mengikuti acara pembukaan yang diawali oleh kata sambutan dari Master of Ceremony dilanjutkan dengan pidato dari kepala sekolah Central China Normal University, universitas yang akan menjadi tempat belajar kami selama dua minggu di Wuhan.

Setelah semua pembina dari keempat negara yang ikut Winter Camp, sebut saja Indonesia, Malaysia, Thailand, dan New Zealand selesai membacakan pidato singkat, bendera Winter Camp pun dikibarkan sebagai pertanda bahwa kegiatan sudah resmi dimulai! Yeaaahh! Tidak lupa juga sepatah-dua patah kata dari campers perwakilan Indonesia yang mewakili keempat negara tersebut dan ditutup dengan foto bersama para panitia dan 154 campers.

Hari masih sangat pagi untuk beristirahat di hotel, kami pun dibawa keliling kampus dan perpustakaan barunya yang mempunyai 9 lantai. Dikarenakan lift tidak cukup menampung 154 campers, kami dengan hati yang sangat berat menaiki tangga sampai ke lantai 9. Setelah mengelilingi perpustakaan per lantainya, kami pun turun lagi dan pergi ke museum yang berada tepat di samping perpustakaan tersebut. Dalam museum tersebut kami diperkenalkan berbagai macam peninggalan bersejarah Tiongkok seperti guci, cap kerajaan, kaligrafi, patung-patung, alat tukar pada zaman dulu, dan lain sebagainya.

Setelah puas melihat, kami pun keluar dan itu bertepatan sekali dengan waktu makan siang. Jadi, kami berangkat dari perpustakaan menuju restoran untuk makan siang. Masakan khas Tiongkok bisa dikatakan berbeda sekali dengan masakan khas Indonesia, baik dari segi cita rasa maupun bentuknya. Beberapa masakan yang disajikan seperti bebek panggang yang paling terkenal, dimsum, bakso kukus yang dibungkus dengan nasi, teratai goreng, dan masih banyak hidangan enak lainnya. Setelah puas mengisi perut kosong ini, panitia pun menentukan kelas-kelas yang akan kami masuki selama Winter Camp ini. Dan kami, rombongan Indonesia mendapati New Zealand sebagai “teman sekelas” kami.

Hari pertama merasakan indahnya menjadi anak kuliah. Senang, deg-degan, penasaran, heboh sendiri, bangga. Nano-nano! Kami pun dengan girangnya berjalan ke Central China Normal University. 5 menit pertama masih kuat, 10 menit kemudian sedikit lelah, dan 30 menit kemudian sudah ngos-ngosan ditambah lagi harus berjalan jauh dengan cuaca yang sangat dingin. Setelah satu belokan lagi, akhirnya kami sampai juga. Jam tangan sudah menunjukkan angka 9 lewat 5 menit, dan kami masih santai berjalan ke ruang kelas dikarenakan kebiasaan telat kami di Indonesia dan kami berpikir bahwa pasti yang lainnya juga bakal ngaret. Pintu dibuka dan kami melihat sesuatu yang tidak biasa.

Ternyata semua orang sudah berada di dalam ruangan dan kami adalah rombongan yang terakhir! Dengan perasaan tidak enak, kami pun segera memasuki ruangan dan mencari tempat duduk kosong. Kelas pertama dimulai dan itu adalah pelajaran dasar dalam belajar Bahasa Mandarin, Hanyupinyin. Semua campers mengikutinya dengan senang dan gembira. Siangnya, kami belajar melukis. Tersedia tiga pilihan, menggambar burung, ikan mas, atau kuda. Melukis menggunakan kuas untuk pertama kalinya, susah-susah gampang. Meskipun demikian, kami mengikutinya dengan serius dan hasilnya juga tidak mengecewakan. Semuanya puas dengan hasil karya masing-masing.

Nah, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari ini, 19 Desember 2014, para campers akan dibawa ke Huang He Lou atau Yellow Crane Tower. Yellow Crane Tower adalah sebuah menara terkenal dan bersejarah di Tiongkok, menara ini memiliki sejarah yang sangat panjang dan rumit. Pertama kali dibangun pada tahun 223M, selama tiga dinasti kerajaan (220 – 280). Menara ini berdiri di tepi Sungai Yangtze di Distrik Wuchang, Kota Wuhan, Provinsi Hubei di Tiongkok bagian tengah. Menara ini juga terletak diatas bukit yang disebut Sheshan (Snake Hill).

Sebelum ke Yellow Crane Tower, kami dibawa sarapan dulu ke suatu tempat yang bernama Hubu Alley atau dikenal dengan nama “Breakfast Street” di Wuhan. Dari namanya saja kita sudah tau bahwa pasti banyak jenis sarapan yang dijual di sana, seperti yang paling terkenal di Wuhan adalah Re Gan Mian atau Hot-Dry Noodles, mie bumbu kacang berwarna coklat yang sedikit pedas. Ada juga Dou Pi, sejenis nasi campur telur dan daging yang dimasak dalam sebuah kuali berukuran cukup besar. Selain makanan, ada juga minuman khasnya yaitu Hu Mi Jiu atau Rice Wine. Pekerjaan mengenyangkan perut sudah selesai dan ini saatnya berangkat ke Yellow Crane Tower. Perjalanan ke Yellow Crane Tower tidaklah lama, hanya sekitar 30 menit dari Hubu Alley. Menara ini sudah menjadi simbol Kota Wuhan, maka yang belum mengunjungi menara ini sama saja dengan belum mengunjungi Wuhan.

Destinasi selanjutnya adalah menyaksikan petunjukan alat musik bianzhong atau The Chime Bells, alat musik kuno yang terbuat dari tembaga. Alat musik ini adalah yang terbesar yang pernah ada sepanjang sejarah Tiongkok dengan panjang 10,79 m, tinggi 2,67 m, dan berat 2.500 kg. Suara yang dihasilkan pun sangat beragam, sesuai dengan bel mana yang dipukul. Sekadar memberitahu, pertunjukan ini berada di dalam Hubei Provincial Museum. Kami juga sempat mengunjungi museum yang satu ini. Museum ini menyimpan lebih dari dua ratus ribu objek termasuk di dalamnya pedang Kaisar Goujian, bianzhong, dan makam Zheng Hou Yi, sang pemilik bianzhong. Tidak terasa malam telah tiba, kami dibawa ke Hubu Alley lagi untuk mencari makanan enak. Siapa sangka ternyata Hubu Alley bukan hanya menjual sarapan, tetapi jajanan pada waktu malam lebih banyak dibandingkan pagi tadi. Ini jelas merupakan surganya para pecinta makanan! Dan acara makan malam dengan membeli jajanan pun telah selesai, kembali ke hotel dan beristirahat sampai pagi.

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Setelah belajar budaya menggunting kertas dan membuat pangsit serta mengikuti seminar yang bertubi-tubi selama dua hari terakhir ini, kami akan mengikuti tur selama dua hari ke Distrik Xiangyang (22 Desember – 23 Desember 2014). Dengan tujuan pertama yaitu Suizhou, tempat Yan Di Shen Nong Shi atau Yellow Emperor yang diyakini sebagai raja pertama di China.

Tujuan berikutnya merupakan Gu Long Zhong yang merupakan kampung halaman Zhuge Lliang dalam sejarah tiga kerajaan atau Sam Kok. Sambil jalan, sambil melirik-lirik berbagai macam souvenir mulai dari kipas yang sering dipegang oleh Zhuge Liang sampai patung Zhuge Liang sendiri. Dan destinasi terakhir hari ini merupakan tembok kota Xiangyang, bukan tembok raksasa ya. Panjangnya hanya sekitar 7,6 km. Masih kalah panjang sama tembok raksasa yang panjang keseluruhannya 8.850 km. Dari atas temboknya sendiri sudah dapat melihat hampir seluruh Distrik Xiangyang.

Tur dua hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah mau balik ke tempat peristirahatan lagi. Namun besok adalah hari yang ditunggu-tunggu. Malam Natal! Semua campers sibuk latihan untuk penampilan besok. Semuanya ingin menampilkan yang terbaik. Dan rombongan Indonesia pun sudah memikirkan hal itu dan akan tampil semaksimal mungkin untuk mengibur campers lainnya.

You better watch out… You better not cry… Better not pout… I’m telling you why… Santa Claus is coming to town!! Yeeeeey Christmas is coming!!! Dan panitia Winter Camp mempunyai acara khusus untuk merayakan malam Natal ini. Acara ini dimulai dari pukul 3 sore dan diawali oleh kata sambutan oleh Master of Ceremony dari masing-masing negara, pidato dari ketua panitia dan juga chairman dari acara Winter Camp sendiri. Penampilan pertama merupakan penampilan dari Thailand yang membawakan tarian Xiao Ping Guo. Seisi ruangan menjadi heboh seketika musik diputar. Penampilan selanjutnya merupakan penampilan dari Indonesia yang membawakan tari Saman. Gerakan menyerupai ombak di akhir tarian membuat suasana semakin heboh dan riuh. Selanjutnya ada tarian khas Maori yang dipersembahkan oleh New Zealand. Tarian ini mempunyai arti menantang seseorang untuk bertarung atau semacamnya. Dan yang terakhir Malaysia, tarian Sayang Kinabalu dan tarian Chocho yang menarik hati semua penonton.

Tidak lupa juga panitia membuat acara ulang tahun bagi campers yang berulang tahun pada bulan Desember. Senang sekaligus terharu karena panitia sangat perhatian dengan campers-nya sampai tidak lupa untuk membantu mereka merayakan ulang tahun mereka. Ulang tahun yang sangat spesial bagi para campers! Di akhir acara, panitia juga membagikan boneka dan cokelat sebagai hadiah Natal. Campers pun menerimanya dengan sangat senang. Serasa belum puas dengan acara Natal, Saints pun berniat untuk membuat acara sendiri lagi. Dengan membeli kue dan minuman, Saints berkumpul bersama di dalam satu kamar dan berbagi cerita selagi menunggu tibanya Natal.

Teng.. Teng.. Teng!!! Jam dinding pun menunjukkan pukul 12 yang berarti n\Natal telah tiba. Semua bersorak gembira menyambut hari Natal yang pertama kali dirayakan jauh dari orangtua dan kampung halaman. Tetapi dengan adanya teman-teman seperjuangan, malam yang dingin pun bisa terasa hangat karena kehangatan yang diberikan semasa di Wuhan. Kami pun saling menyuapkan kue sebagai tanda persahabatan dan second-family-wannabe.

Meskipun Natal, kami tetap harus belajar dan kembali ke kampus seperti biasanya. Kegiatan selanjutnya merupakan kelas sastra, belajar membaca puisi dan memahami arti puisi tersebut. Dilanjuti dengan kelas menari pada sore harinya. Kami belajar tarian khas Tibet yang bertumpu pada kaki dan pinggul. Serta kelas wushu yang ada pada gedung olahraga. Sayangnya kami harus memilih salah satu kelas dikarenakan waktu yang tidak mencukupi. Besoknya juga ada kelas menyanyi dan alat musik okarina, berbentuk bulat seperti telur dengan beberapa lubang dan memiliki saluran kecil untuk ditiup. Okarina biasanya terbuat dari tanah liat, namun ada juga yang terbuat dari plastik dan logam. Seminar tentang alat musik guzheng pun tidak lupa dilaksanakan.

Tidak terasa waktu dua minggu ini cepat sekali berlalu. Rasanya kemarin baru bertemu, sekarang sudah mau berpisah saja. Acara penutupan pun berlangsung pada tanggal 29 Desember 2014 di Lecturer Hall. Sebelum para perwakilan menyampaikan kesan pesan mereka selama dua minggu di Wuhan, para campers ditampilkan sebuah video yang berisi flashback semua kegiatan mereka dari awal acara hingga akhir acara Winter Camp. Senang mengingat kejadian itu, tetapi juga sedih mengingat sebentar lagi semuanya akan kembali ke aktivitas masing-masing lagi. Di akhir acara, panitia membagikan sertifikat partisipasi kepada 154 campers dan itulah akhir dari Winter Camp 2014 di Wuhan. Kami pun meninggalkan Wuhan pada tanggal 30 Desember 2014 dan sampai dengan selamat di Pekanbaru pada tanggal 31 Desember 2014.

Inilah akhir yang membahagiakan serta mengharukan bagi Yellow Jacket campers in 2014! See ya in Winter Camp 2015! (KLn)

Written by: Kellen
Photos by: Jinnie Wong

Tags: , , , ,