Back to Home Page

Santa Maria Care: Mengulurkan Tangan untuk Sinabung

MENDIDIK peserta didik dapat dilakukan dengan berbagai cara. Selain akademik yang merupakan kewajiban setiap satuan pendidikan, SMA Santa Maria Pekanbaru memberikan pendidikan karakter, kepribadian, hingga aspek sosial. Yang terbaru adalah sebuah program kegiatan sosial dengan nama Santa Maria Care.


photo smasm-photos-IMG_0893_zpsa0042474.jpg

Santa Maria Care merupakan sebuah program terbaru di SMA Santa Maria Pekanbaru yang diorganisir oleh OSIS (Organisasi Siswa Intra-Sekolah), sebagai bentuk kepedulian yang luar biasa terhadap bencana alam yang melanda negeri Indonesia di awal tahun 2014 ini. Mulai dari erupsi Gunung Sinabung, banjir bandang di Manado, banjir di Jakarta, dan terakhir letusan Gunung Kelud.

Bertepatan dengan momen Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day) dan perayaan Cap Go Meh (hari ke-15 Tahun Baru Imlek), SMA Santa Maria Pekanbaru memilih korban erupsi Sinabung, tepatnya di Kaban Jahe, Sumatra Utara sebagai sebuah tempat untuk menyampaikan kasih dan kepedulian dari civitas akademika. Dengan mempertimbangkan lokasi yang lebih dekat dengan Provinsi Riau, serta banyaknya korban yang masih menetap di lokasi pengungsian, korban Sinabung akan dikunjungi oleh rombongan SMA Santa Maria Pekanbaru.

Preparation

Beberapa hari sebelumnya, dikoordinir oleh perangkat kelas dan anggota OSIS, seluruh peserta didik SMA Santa Maria Pekanbaru diinstruksikan untuk membawa beras sebanyak 2 kg untuk dikumpulkan. Beras ini dapat disisihkan dari persediaan beras di rumah masing-masing. Beberapa pihak bertanya, mengapa harus mengumpulkan beras?

photo smasm-photos-IMG_0856_zpsc8f84b71.jpg

Tujuan dari instruksi mengumpulkan beras ini adalah melatih peserta didik agar lebih tanggap dan peduli kepada orang lain, tidak hanya dengan memberikan materi berupa uang saja seperti yang telah dilakukan sebelumnya. Peserta didik dibiasakan untuk melakukan bantuan secara nyata, dengan menyisihkan sebagian dari kepunyaan mereka seperti beras dan makanan pokok. Barang nyata ini sendiri tentu lebih berguna, jika disampaikan secara langsung daripada memberi uang yang belum tentu dapat dibelanjakan di wilayah bencana.

photo smasm-photos-IMG_0859_zps668f6d7d.jpg

Setelah seminggu diberikan waktu pengumpulan, partisipasi yang luar biasa datang dari berbagai pihak. Peserta didik, orangtua, bahkan beberapa institusi juga membantu memberikan sumbangan. Beras dengan total 2 ton lebih dan nyaris mencapai 3 ton, serta mie instan sebanyak 140 dus berhasil terkumpul di sekolah.

Pembelajaran tidak sampai di situ saja. Belasan anggota OSIS yang terlibat dalam kepanitiaan, dilatih untuk bekerjasama, bertanggungjawab, serta berkoordinasi untuk mengatur dan mengurus sumbangan yang telah terkumpul ini. Panitia menyeleksi dan membagi beras ke dalam karung-karung berukuran 10 kg secara merata. Panitia juga menyortir mie instan dan berbagai makanan lain yang diserahkan oleh civitas akademika.

Hari Pertama, Berangkat dari Pekanbaru

Selasa (18/2), rombongan SMA Santa Maria Pekanbaru yang terdiri atas kepala sekolah, perwakilan pendidik dan tenaga kependidikan, serta perwakilan peserta didik yaitu OSIS dan MPK, bersiap-siap untuk memulai perjalanan dari Pekanbaru.

photo smasm-photos-IMG_0885_zps622cf157.jpg

Setelah mengikuti apel pagi dan doa bersama ratusan peserta didik, rombongan yang mengenakan jaket merah ini mulai berangkat sekitar pukul 09.00 WIB. Rombongan terdiri dari satu unit bus, satu unit mobil pribadi, dan satu truk yang memuat beras serta puluhan dus mie instan, berangkat keluar dari lapangan utama SMA Santa Maria Pekanbaru.

Perjalanan panjang dimulai. Cuaca Pekanbaru yang akhir-akhir ini cukup gersang mewarnai perjalanan ke luar kota. Dan sekitar pukul 13.00 WIB, rombongan tiba di Duri dan singgah di salah satu unit sekolah yang juga berada di bawah naungan Yayasan Prayoga Riau, Sekolah Santo Yosef Duri.

photo smasm-photos-IMG_0907_zps62f37e1f.jpg

Rombongan bersilaturahmi dengan pendidik di Sekolah Santo Yosef Duri yang sangat terbuka dalam menyambut kedatangan rombongan. Sambil berkeliling area sekolah, rombongan berbagi pengalaman di koridor sekolah. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan dan singgah di SD Slamet Riyadi, Simpang Bangko, Duri untuk beristirahat dan makan siang yang dijamu oleh Bapak Albert dari SMP Santo Yosef Duri.

Rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Baganbatu. Perjalanan dari Simpang Bangko ke Baganbatu ditempuh sekitar 3 jam. Di tengah perjalanan, letih dan lelah tidak terlihat di wajah peserta didik yang hampir seharian berada di dalam rombongan perjalanan. Mereka mengisi waktu melalui berbagai candaan dan debat dengan berbagai topik yang menggelitik.

photo smasm-photos-IMG_0951_zps35d5c29e.jpg

Tiga jam yang relatif panjang tidak terasa apabila diisi dengan berbagai aktivitas. Untuk mengurangi lelah, rombongan dijadwalkan untuk sering-sering melakukan peristirahatan di berbagai titik. Akhirnya, sore menjelang malam, rombongan tiba di salah satu SPBU dan rest area di jalan lintas provinsi, Baganbatu.

Sambil mengisi bahan bakar kendaraan, rombongan berehat. Ada yang membersihkan diri dengan MCK (mandi, cuci, kakus), sebagian mengisi perut, menikmati kopi, dan tidak ketinggalan peserta didik yang duduk-duduk sambil berbagi cerita.

photo smasm-photos-IMG_0961_zpsf6d78e3f.jpg

Sekitar pukul 19.30 WIB, rombongan kembali melanjutkan perjalanan meninggalkan Provinsi Riau menuju ke Sumatra Utara. Pukul 20.15 WIB, rombongan menikmati makan malam di Rumah Makan dan Hotel Sudi Mampir, Kotapinang, Labuhanbatu Selatan, Sumatra Utara. Selanjutnya di dalam perjalanan yang panjang pun, rombongan sering berhenti di beberapa tempat peristirahatan dan SPBU untuk merenggangkan otot sejenak serta mengeluarkan sisa ekskresi.

Perjalanan yang panjang sebagian diisi dengan tidur. Meski di beberapa titik, rombongan selalu dikejutkan dengan guncangan akibat beberapa titik jalan lintas provinsi yang buruk. Tidak banyak hambatan berarti yang dialami peserta.

Hari Kedua, Menjalankan Amanah

Keesokan paginya (19/2), rombongan memutuskan singgah di salah satu kawasan wisata yang sulit untuk dilewatkan. Sebuah pemandangan alam yang luar biasa untuk mengagumi karya Sang Pencipta, yaitu Kawasan Air Terjun Sipisopiso, Tongging, Sumatra Utara. Peserta dapat menghirup udara pagi yang segar, mencuci mata, serta berfoto-foto sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan utama rombongan yaitu posko pengungsian.

photo smasm-photos-IMG_1006_zps10f589bf.jpg

Sekitar 30 menit singgah di air terjun, rombongan mengisi energi dengan sarapan pagi di sebuah warung makan. Sambil menunggu makanan, beberapa peserta didik menyegarkan diri dengan mandi di kamar mandi yang tersedia.

photo smasm-photos-IMG_0987_zpsf9b0fe27.jpg

Setelah sarapan, rombongan berhenti sejenak di Kantor DPRD Kabupaten Karo. Pihak sekolah yang diwakili kepala sekolah, Bapak Ferdinandus Nipa menyampaikan laporan dan pemberitahuan kedatangan rombongan untuk memberikan bantuan sosial. Setelah selesai, rombongan melanjutkan rute ke posko pengungsian yang berposisi di Kabanjahe, Brastagi, tepatnya posko 1 yang berlokasi di ex Universitas Karo I.

Setelah tiba di posko, rombongan berkumpul dan saling membantu untuk menurunkan bantuan dari truk. Dengan bergotongroyong, peserta didik yang juga panitia dari OSIS menurunkan karung-karung beras dan mie instan ke teras lokasi pengungsian. Beberapa pengungsi membantu menggeser-geser namun tidak membantu menurunkan untuk meminimalisir risiko perebutan.

photo smasm-photos-IMG_1066_zpseb8f690d.jpg

Setelah semua sumbangan telah diletakkan di tempat yang tersedia, dilakukan proses serah-terima. Dibawakan oleh salah seorang pendidik Ibu Timria Malem dengan bahasa Karo, beliau menyampaikan sepatah dua patah kata mewakili pihak sekolah kepada para pengungsi. Kemudian dilanjutkan dengan Bapak Ferdinandus Nipa selaku kepala SMA Santa Maria Pekanbaru, yang menyampaikan pesan dan secara simbolik menyerahkan sumbangan kepada para pengungsi. Beliau berpesan agar para pengungsi senantiasa sabar dan tabah dalam menghadapi musibah ini. Kemudian penyerahan dilanjutkan dengan sambutan dari Frando Wadino, selaku ketua OSIS dan mewakili peserta didik lainnya di SMA Santa Maria Pekanbaru.

photo smasm-photos-DSC00720_zps416fee27.jpg

Setelah penyampaian dari pihak sekolah, dilanjutkan dengan penerimaan secara simbolik dari kepala desa dan camat setempat. Beliau dan mereka sangat mengapresiasi serta mengucapkan banyak terima kasih kepada SMA Santa Maria Pekanbaru yang sudah ikhlas dan bersedia membantu mereka. Beliau berharap Tuhan selalu memberkati keluarga besar SMA Santa Maria Pekanbaru yang sudah jauh-jauh dari Pekanbaru menuju posko pengungsian, serta mendoakan keselamatan rombongan dalam perjalanan.

photo smasm-photos-DSC00724_zps28dfba3e.jpg

Serah-terima diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ibu Timria dalam bahasa Karo. Doa yang beliau haturkan begitu menyentuh hati para pengungsi, sehingga terlihat beberapa dari pengungsi yang meneteskan air mata. Dalam doanya, Ibu Timria memohon kepada Tuhan agar erupsi Gunung Sinabung bisa secepatnya berhenti, dan para pengungsi diberi banyak ketabahan.

photo smasm-photos-DSC00732_zpsfa63872c.jpg

Sebelum rombongan melanjutkan perjalanan pulang, rombongan menyempatkan diri untuk mengeksplorasi area pengungsian. Rombongan dapat melihat aktivtas pengungsi yang bergotongroyong memasak lauk dalam kuali yang besar, memasak air, menggoreng telur, dan hal-hal lainnya yang dilakukan bersama-sama. Ada pula beberapa mahasiswa yang juga mengadakan kegiatan sosial dengan memberikan pengajaran yang bersifat edukatif untuk pengungsi khususnya anak-anak, seperti menggambar, bernyayi, dan acara lain yang juga bertujuan menghibur para pengungsi.

photo smasm-photos-DSC00737_zpsb544fca9.jpg

Dari proses eksplorasi dan pengamatan ini, peserta didik dalam rombongan sendiri dapat melihat betapa kesulitan dan penderitaan yang dirasakan pengungsi akibat erupsi ini. Peserta didik yang melihat secara langsung dan nyata, memperoleh banyak sekali nilai kehidupan serta rasa syukur atas apa yang mereka miliki, yang tidak disadari selama ini. Khususnya mengingat peserta didik sendiri yang suka memilih makanan, menyisakan makanan, menyia-nyiakan air bersih, dan sebagainya, di mana hal yang ada di posko pengungsian justru terjadi sebaliknya. Ratusan pengungsi hanya dapat mengonsumsi makanan yang seadanya, bahkan hanya dapat mengonsumsi nasi, telur, dan mie instan setiap harinya. Mereka juga kesulitan mandi dan minum akibat terbatasnya pasokan air bersih.

photo smasm-photos-IMG_1040_zpse7d9f7a4.jpg
photo smasm-photos-IMG_1047_zps0a0c58c4.jpg
photo smasm-photos-IMG_1060_zps00a93ea1.jpg
photo smasm-photos-IMG_1038_zps19363f36.jpg

Relaksasi

Tiga jam telah berlalu, rombongan pun melanjutkan perjalanan meninggalkan posko pengungsian. Dalam perjalanan pulang, setelah perjalanan jauh kurang lebih 24 jam non-stop dari Pekanbaru, rombongan singgah di berbagai tempat. Salah satunya adalah Pasar Wisata Brastagi. Rombongan menyempatkan diri untuk singgah dan berbelanja oleh-oleh, khususnya buah-buahan yang terkenal segar dan baik.

Rombongan setelah itu menuju ke Tempat Permandian Air Panas Belerang Sibolangit, Brastagi. Rombongan yang terdiri dari pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik semua berbaur dan terlihat ceria merelaksasikan diri di kolam air panas yang terpisah-pisah sesuai suhu panas airnya. Peserta didik tampak sangat menikmati dan tertantang untuk mencoba berbagai kolam yang suhunya pas untuk direndami. Di sisi lain, pendidik dan tenaga kependidikan merenggangkan otot dan tampak rileks melepas lelah maupun kepenatan setelah biasanya penuh beraktivitas.

Satu jam lebih rombongan menghabiskan waktu untuk menikmati kehangatan air panas. Kemudian sekitar dua jam perjalanan ditempuh, sekitar pukul 17.00 WIB, rombongan singgah dan beristirahat di kediaman orangtua Ibu Timria di Sumatra Utara, yang disambut hangat oleh keluarga Ibu Timria. Rombongan yang nyaris sudah 36 jam lebih berada di dalam perjalanan dipersilakan untuk beristirahat dan tidur sejenak di ruang keluarga yang cukup besar untuk menampung semua rombongan.

Kira-kira pukul 20.30 WIB, setelah berbincang-bincang hangat dan kental dengan nuansa kekeluargaan, rombongan kembali melanjutkan perjalanan dengan sebelumnya kembali berdoa bersama di kediaman Ibu Timria. Rombongan melanjutkan perjalanan pulang dari Provinsi Sumatra Utara menuju Provinsi Riau. Di beberapa titik, rombongan selalu berhenti untuk sekadar mengisi bahan bakar kendaraan, makan untuk mengisi perut, ataupun MCK.

Hari Ketiga, Menikmati Perjalanan

Dalam perjalanan pulang, rupanya suasana di bus peserta didik lebih heboh daripada sebelumnya. Jika sebelumnya rombongan masih canggung karena perwakilan peserta didik dari OSIS yang berbeda tingkat kelas, kini terlihat jauh lebih akrab dan dekat satu sama lain. Kelucuan dan perdebatan seru tampak selalu mengisi waktu yang panjang. Peserta didik memainkan permainan sambung kata yang melatih konsentrasi. Peserta didik yang kalah, akan mendapatkan hukuman yang menggelitik perut, sehingga kantuk tidak lagi terasa.

photo smasm-photos-IMG_1022_zps022d4610.jpg

Pagi hari (20/2), peserta menikmati sarapan pagi di salah satu kedai makanan di jalan lintas provinsi. Suasana yang terbuka, alami, ditambah perut yang mulai lapar membuat rombongan begitu menikmati berbagai menu sarapan pagi seperti soto, nasi goreng, lontong, dan lain-lain yang disajikan. Beberapa peserta didik juga menyempatkan mandi di kamar mandi yang tersedia.

photo smasm-photos-IMG_1023_zps0d0c10c9.jpg

Dalam perjalanan pulang, dengan rute yang berbeda dengan rute awal, rombongan kembali menyempatkan diri singgah ke salah satu unit sekolah milik Yayasan Prayoga Riau, yaitu Sekolah Yosef Arnoldi Baganbatu. Rombongan bersilaturahmi dan menjalin kebersamaan, apalagi hampir semua peserta didik belum pernah berkunjung ke sekolah-sekolah lain yang merupakan afiliasi Sekolah Santa Maria Pekanbaru. Rombongan berbagi cerita dan berkeliling-keliling area sekolah.

Sambutan yang luar biasa diberikan oleh SMP dan SMA Yosef Arnoldi Baganbatu. Bahkan mereka mengajak rombongan dan menjamu makan siang seluruh rombongan di salah satu rumah makan ayam penyet di Baganbatu. Kehangatan sangatlah terasa ditambah keakraban yang terjadi selama lamanya perjalanan.

Rombongan kembali menghabiskan waktu kurang lebih 24 jam untuk kembali ke Pekanbaru. Rombongan selalu istirahat agar rombongan tidak terlalu lelah. Malam harinya rombongan makan malam di salah satu restoran sederhana, yang semakin menambah keakraban rombongan. Perjalanan dilanjutkan secara hati-hati, dan tiba kembali di Pekanbaru sekitar pukul 23.45 malam. Seluruh rombongan berkumpul di kompleks SMA Santa Maria Pekanbaru dengan selamat dan tanpa kekurangan apapun yang berarti. Setelah mengemaskan kembali barang-barang bawaan, rombongan pulang dijemput oleh orangtua masing-masing untuk beristirahat. Sebagian rombongan, diantarkan oleh pihak sekolah ke rumah masing-masing.

Kesimpulan

Perjalanan sosial kali ini sungguh istimewa dan luar biasa. Banyak sekali nilai-nilai yang diperoleh, yang kadang tidak didapatkan dalam lingkungan sekolah. Rombongan dapat belajar bertanggungjawab, bertenggangrasa, toleransi, peduli, dan masih banyak hal-hal positif lainnya. Selain itu juga, rombongan memupuk rasa kebersamaan yang sangat tidak ternilai harganya. Rombongan semakin menghargai arti kehidupan, mengenal untuk bersyukur atas apa yang sudah dimiliki, serta mengagumi ciptaan Tuhan yang luar biasa selama perjalanan.

Selain itu, tidak lupa ke tujuan awal, semoga dengan bantuan yang telah dikumpulkan dari civitas akademika SMA Santa Maria Pekanbaru, untuk kemudian disampaikan secara langsung ke lokasi pengungsian, dapat meringankan beban para pengungsi Sinabung. Semoga! (StM/ WPr)

Oleh: Stephen Marlin
Wirawan Perdana

Tags: , , , , , , ,