Back to Home Page

Memaknai Kelulusan UN, Lebih dari Sekadar Angka-Angka

MERAIH kelulusan Ujian Nasional adalah sebuah langkah yang mengakhiri perjalanan di SMA, sekaligus mengawali perjuangan seseorang di jenjang selanjutnya. Namun bagaimanakah cara memaknai kelulusan Ujian Nasional itu sendiri?

Exam's Night

Semenjak Ujian Nasional (UN) diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia beberapa tahun silam, kata kelulusan semakin erat dikaitkan dengan angka-angka. Standar nilai yang terus dinaikkan, menjadi momok yang begitu menakutkan bagi sebagian peserta didik yang duduk di bangku sekolah. Di satu sisi, peserta didik cenderung melakukan berbagai cara untuk melewati sebuah status yang bernama “Lulus”.

KILAS BALIK

Jika dilihat dari sudut pandang yang luas serta pikiran yang jernih, tujuan UN itu sebenarnya adalah baik yaitu dengan berupaya menyetarakan tingkat pendidikan yang ada di Indonesia melalui sebuah standar ujian yang sama, sehingga lulusan yang dihasilkan oleh sekolah yang memiliki standar di atas rata-rata akan sama dengan sekolah-sekolah lainnya.

Namun di sisi sebaliknya, pembuatan standar dalam UN ini terasa tidak matang mengingat kurangnya persiapan sistem yang runtut dalam menyongsongnya. Di sektor lain, penyetaraan ini juga terasa tidak adil melihat banyaknya ketimpangan antara proses belajar-mengajar juga sarana-prasarana pendidikan yang ada di daerah perkotaan dengan daerah pedalaman. Sehingga hal ini yang kemudian berubah menjadi alasan klasik, untuk dijadikan sebagai tombak bagi sebagian orang yang berkepentingan dalam menolak penyelenggaraan UN ini.

Hasilnya di tahun-tahun awal penyelenggaraan UN, banyak sekali gejolak yang timbul. Mulai dari angka ketidaklulusan yang melonjak hingga ketidakadilan dalam proses penentuan kelulusan yang berpatok satu-satunya pada nilai UN. Korban-korban “keganasan” UN pun berjatuhan seperti peserta didik yang tergolong pintar dan juara dalam akademik di sekolahnya harus menelan pil pahit dan dinyatakan tidak lulus pada saat itu.

Semenjak itu pula, gejolak ini terus membuat stigma negatif bahwa UN adalah suatu momok yang sangat menyeramkan bagi para pesertanya. Pesertanya terus-terusan dihantui oleh rasa takut akan tidak lulus, yang juga dibarengi angka standar kelulusan yang terus meningkat setiap tahunnya.

Yang kemudian situasi ini dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk mencari untung serta membuat penyimpangan-penyimpangan yang berakibat pada kecurangan di dalam penyelenggaraan UN. Proses jual-beli kunci jawaban ilegal, joki dalam pengerjaan ujian, serta ritual-ritual aneh pun menjadi “makanan” yang mau-tidak mau harus ditelan dan dijalani peserta didik untuk terbebas dari rasa khawatir akan kelulusan UN tersebut.

SEKARANG

Apapun itu, genderang penyelenggaraan UN telah ditabuhkan, bahkan telah berjalan selama lebih dari lima tahun. Proses perbaikan telah berjalan dan tentunya untuk membuat UN menjadi semakin baik.

Dimulai dari pembagian penentuan kelulusan yang proporsional, di mana sekolah dilibatkan dalam penentuan kelulusan seorang peserta didik. Penentuan kelulusan proporsional yang tidak berpatokan satu-satunya lagi pada hasil UN ini dianggap sebagai sebuah solusi untuk mengatasi perbedaan standar nilai antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Selain itu juga diusahakan dalam meminimalisir faktor-faktor X yang terjadi saat UN, yang pada penyelenggaraan sebelumnya dapat menggagalkan kelulusan seseorang akibat hal-hal sepele.

Kemudian pengadaan berbagai metode yang dipandang efektif dalam menghindari penyimpangan yang terjadi selama UN sebelum-sebelumnya. Beberapa di antaranya seperti yang terlihat pada tahun 2013 ini, yakni penggunaan paket soal UN yang mencapai 20 opsi dan penetapan kode soal dengan pemindaian kode bar (barcode).

Semua langkah dilakukan, tidak lain adalah untuk memperbaiki citra UN yang sudah telanjur dicap kurang baik oleh berbagai kalangan. Namun tren ke arah positif ini, lagi-lagi harus ternodai oleh tertundanya pelaksanaan UN secara serentak di beberapa provinsi akibat kesalahan teknis percetakan naskah soal.

Di luar dari tertundanya UN secara serentak, secara keseluruhan penyelenggaraan UN termasuk lancar dan baik.

KELULUSAN 100%

smasm_inset_003_graduation-2013_zps11d1b072.jpg

Pada tahun akademik 2012 – 2013, dari 290 orang peserta didik kelas 12, SMA Santa Maria Pekanbaru kembali mendapatkan angka kelulusan 100%.

Pengumuman kelulusan yang diselenggarakan pada hari Jumat (24/5) yang lalu ini, dilaksanakan oleh sekolah Katolik swasta ini hanya secara daring melalui situs web tanpa mengumpulkan peserta didik di dalam lingkungan sekolah.

Hal ini adalah langkah-langkah preventif yang dilakukan dalam menghindari aksi-aksi yang berlebihan, yang dapat merugikan diri sendiri maupun mengganggu ketertiban umum.

Bukannya melarang peserta didik dalam merayakan kelulusannya seperti remaja SMA lainnya, SMA Santa Maria Pekanbaru dalam langkah ini berusaha mengajak civitas akademikanya untuk memaknai kelulusan yang lebih dari sekadar angka-angka dan eforia semata.

Kelulusan dari bangku SMA ini semata-mata hanyalah lulus dari bangku pendidikan formal dan bukanlah akhir dari segalanya. Karena seusai kelulusan SMA, peserta didik justru baru akan memulai perjalanan hidup yang sebenarnya, dengan bergabung dengan masyarakat pendidikan yang lebih tinggi lagi dan masyarakat umum lainnya.

Di luar itu, kelulusan yang sejati tentunya bukan hanya dilihat dari kauntitas, nilai, maupun angka-angka. Melainkan kelulusan sesungguhnya harus dilihat dari kualitas dalam menjadikan lulusan peserta didik sebagai insan seutuhnya yang mampu berpikir kritis, bertindak edukatif, serta melangkah adaptif.

Terakhir, tidak lupa ucapan selamat atas kelulusan peserta didik kelas 12, angkatan 2012 – 2013! Go Saints! (StM)

Tags: , , ,