Back to Home Page

Leadership Development Training 2011, Jadilah Pemimpin Dari Para Pemimpin!

BERANGKAT pada hari Sabtu (15/10) sekitar pukul 12.30 WIB pekan lalu, rombongan peserta camping Pecinta Alam dan juga peserta latihan kepemimpinan OSIS serta PASUS mulai meninggalkan SMA Santa Maria Pekanbaru. Dan cerita dari sebuah perjalanan pun dimulai.

Lapangan utama SMA Santa Maria Pekanbaru terlihat ramai tak seperti biasa. Siang itu sekitar pukul 11.15 WIB, seluruh peserta dari acara yang bertajuk “Leadership Development Training 2011” sedang baris-berbaris di tengah teriknya cuaca. Penyusunan barang-barang bawaan, pembagian kelompok-kelompok, dan absensi pra-keberangkatan dijalankan oleh para pembina dan koordinator kegiatan dibantu pengurus OSIS.

Proses menjelang keberangkatan

Setelah pengumpulan peserta dan persiapan sebelum dimulainya rangkaian acara, Tim Pecinta Alam, OSIS, dan PASUS merapikan barisan. Sekitar pukul 12.30 WIB, dimulailah keberangkatan yang diawali oleh sebuah doa.

Kendala pun dialami akibat tidak muatnya bus untuk menampung jumlah peserta secara keseluruhan, yang pada akhirnya membuat puluhan peserta harus menunggu selama kurang lebih 2 jam. Sementara rombongan lain yang telah berangkat terlebih dahulu, segera menuju ke Bumi Perkemahan Taman Hutan Raya (Tahura) di daerah Hutan Lindung Lancang Kuning, Riau.

HARI PERTAMA: Tiba, Kerja, dan Tetap Bersama

Perjalanan sekitar satu jam mulai ditempuh. Kebetulan, Redaksi mengikuti rombongan terakhir yang tertunda keberangkatannya, akhirnya bisa ikut juga merasakan pengalaman perjalanan dengan bus angkutan kota tersebut. Ya, bus kelas ekonomi itu melaju merayap di tengah kepadatan Kota Bertuah, yang melewati rute Jalan Riau Ujung hingga akhirnya menyeberangi Jembatan Leighton II.

Perjalanan belum selesai. Berikutnya, rombongan memasuki pinggiran kota dan perlahan-lahan meninggalkan mulusnya aspal jalanan kota. Suasana bus tampak padat penuh penumpang namun sepi, entah karena bosan ataupun karena penasaran. Sampai pada beberapa waktu kemudian, tampaklah gerbang yang bertuliskan Hutan Lindung Lancang Kuning.

Lingkungan Bumi Perkemahan Tahura, Riau

Perkiraan awal pun menduga, bahwa rombongan telah sampai pada tujuan. Ternyata benar, namun bisa juga dikatakan salah. Bus melaju memasuki palang yang dijaga oleh petugas, memasuki belantara hutan lindung yang dapat dibayangkan sendiri. Tidak terlihat area yang luas untuk mendirikan tenda, tidak terlihat adanya sarana pendukung lainnya. Semula, rombongan hanya bisa melihat jalan berpasir bebatuan yang panjang dan bergelombang, yang terus dilalui oleh bus. Semula di dalam benak, terlintas pertanyaan, “Apakah rombongan harus berkemah di hutan seperti ini?”

Semakin memasuki hutan, rute semakin menantang. Ternyata di dalam hutan tersebut, adalah daerah perbukitan yang semakin meninggi jalannya. Tanjakan demi tanjakan, guncangan demi guncangan, termasuk sempitnya bahu jalan, mau tidak mau akhirnya juga harus terus ditempuh. Juga tak lupa akan adanya beberapa tanjakan curam yang berakibat bus berjalan perlahan-lahan agar dapat menahan beban para rombongan.

Sekitar area pendopo, di daerah berbukit-bukit

Belokan dan tanjakan, berakhir di atas perbukitan. Bus pun berhenti dan mengisyaratkan itulah ternyata area perkemahan yang dimaksud. Sepintas, kelegaan dapat dirasakan rombongan setelah perjalanan di dalam bus dan bertemu dengan rekan-rekan peserta lainnya. Juga suasana camping area yang tidak seburuk perkiraan. Wilayahnya luas berupa lapangan, yang terletak agak ke bawah dari puncak bukit. Sedangkan di puncak bukit ada sebuah gedung pendopo berlantai 2 yang tampak megah dari kejauhan, namun tidak terurus dan dikelilingi banyak tiang bendera. Secara kasat mata, suasana terasa sejuk dan hijau, serta di sekeliling tampak rimbunnya pepohonan dan liarnya hutan.

Rombongan terakhir ini pun sempat beristirahat sejenak. Setelah itu, Tim Pecinta Alam langsung turun ke lapangan untuk bergabung bersama rekan lainnya yang telah tiba duluan. Tenda satu per satu mulai didirikan, tungku api satu per satu mulai dipasang. Terlihat bentuk kerjasama dan teamwork yang begitu kental antarkelompok.

Mendirikan tenda bersama-sama

Di sisi tempat yang lain, calon OSIS dan PASUS menjalankan kegiatan latihan kepemimpinan terpisah di lokasi yang berbeda. Calon OSIS dan PASUS berada di atas bukit di sekitar area pendopo yang menjalankan berbagai acara keakraban dan juga pelatihan mental-fisik. Diselingi beberapa kegiatan selingan, terlihat ramainya suasana karena hadir pula pengurus senior periode sebelumnya.

Hari mulai menjelang petang, matahari mulai menuju tempat persembunyiannya. Lampu minyak yang dibagikan para pendamping kegiatan mulai dinyalakan karena hari semakin gelap. Perut pun mulai berteriak-teriak minta diisi setelah seharian menempuh perjalanan dan aktivitas yang begitu panjang. Jika di rumah atau di sekolah yang serba praktis karena makanan sudah tersedia atau tinggal beli, maka kali ini pun sama sekali berbeda.

Memasang tungku dan memasak sendiri

Sayur dibagi ke setiap kelompok. Lengkap dengan lauk ikan asin, yang harus digoreng dan dimasak bersama-sama. Sebelumnya memang para peserta telah diinstruksikan untuk membawa peralatan memasak sendiri, juga keperluan lainnya semisal minyak goreng. Kalaupun ada, peserta tidak dilarang untuk membawa makanan cepat saji sendiri misalnya sosis dan nugget. Ya mau bagaimana pun, di keadaan serba terbatas ini, semua harus bisa diakali dengan caranya sendiri.

Tungku yang dipasang dan dinyalakan pun menimbulkan bunyi yang menderu-deru. Panci dan kuali diletakkan, dan para anggota kelompok Pecinta Alam mulai memainkan kemampuan memasaknya. Ada yang memang sudah berpengalaman, ada juga yang menjerit-jerit karena kecipratan minyak. Sungguh sebuah suasana yang seru dan unik yang jarang ditemukan dalam kehidupan sekolah sebagaimana hari-hari biasa. Hingga pada akhirnya, pada saat makan pun digabung dengan calon OSIS dan PASUS tersebut.

Belajar mandiri untuk masak dan makan bersama

Waktu terus berjalan dan menunjukkan di atas pukul 20.00 malam. Di sanalah peserta tampak bebas dan berbincang-bincang setelah menambah energi. Ada pun peserta yang masih membersihkan diri setelah sebelumnya tidak sempat mengantri di kamar mandi. Perlu diketahui sebelumnya, di salah satu sisi pendopo, terdapat belasan kamar mandi dan juga toilet. Meskipun pada kenyataannya tetap menyusahkan karena untuk mengambil air harus mengantri di tangki penampungan.

Genset dinyalakan di pendopo untuk penerangan ala kadarnya. Itu dikarenakan jalan dari lapangan perkemahan menuju ke atas bukit, harus melewati berbagai anak tangga yang beresiko celaka sehingga dipasang beberapa lampu. Di sisi lain, pendamping membutuhkan pengeras suara untuk memberikan arahan.

Sesi game yang ditemani hangatnya api unggun

Menuju pukul 22.00 WIB, kegiatan yang didamping oleh pembina dimulai dari Bapak Florinto, Bapak Oktora, Bapak Richardo, Bapak Torus, Ibu Emilinda, Miss Devi, Ibu Amelia, Bapak Dian, dan beberapa lainnya termasuk Bapak Ferdinandus Nipa selaku kepala sekolah ini mulai memasuki sesi game.

Api unggun dari tumpukan kayu bakar dinyalakan. Lingkaran berukuran raksasa terbentuk dari para peserta yang berjejer mengelilingi api unggun. Malam yang dingin, dimandikan oleh taburan bintang di langit dan cahaya bulan, membuat game yang sebenarnya lucu dan menarik itu, mau tidak mau diabaikan oleh peserta yang mulai mengantuk dan memilih bercerita bersama rekannya yang lain. Hingga akhirnya permainan “menyampaikan pesan” ini berakhir dan ditutup dengan doa.

Malam belum selesai. Peserta kembali ke camp masing-masing. Ada yang langsung tidur, ada juga yang mondar-mandir hingga bernyanyi-nyanyi. Sebagian lagi menuju ke pendopo dan mulai menggelar tikar. Ada juga yang bercerita-cerita me-review kisah seharian. Yup, itulah hari pertama LDT2011!

Pages: 1 2

Tags: , , , , ,