Back to Home Page

Mei, Bulan Maria

BULAN Mei menjadi Bulan Maria, sebenarnya merupakan perayaan inkulturatif, sebagai salah satu bentuk devosi umat untuk memberikan penghormatan khusus kepada Bunda Maria. Artinya perayaan ini diadopsi dan dikristenkan dari beberapa perayaan penghormatan terhadap dewa-dewa di beberapa bangsa di Eropa, yang mempunyai kaitan dengan musim semi.

Sebagaimana diketahui, pada musim semi itu, matahari kembali bersinar cerah setelah selama musim dingin bersinar redup. Hawa menjadi sejuk, menggantikan hawa musim dingin yang menyengat. Tumbuhan kembali bertunas dan berdaun setelah rontok selama musim dingin. Bunga-bunga pun kembali mekar dan berkuntum. Hidup serasa kembali bergerak dengan hangat dan dinamis. Bulan Mei dipandang sebagai bulan pertumbuhan, bulan hidup baru. Maka sebagai ucapan syukur, orang Yunani misalnya, menjadikan bulan Mei sebagai bulan yang didedikasikan untuk menghormati dewa Artemis, dewi kesuburan. Bangsa Roma misalnya lagi, mendedikasikan bulan Mei untuk menghormati dewi Flora, dewi mekar.

Orang-orang Katolik dilarang mengikuti dan terlibat dalam perayaan-perayaan itu. Untuk membendungnya, lalu dipikirkan sebuah perayaan pengganti. Tetapi apa? Begitulah, melalui renungan, refleksi dan doa-doa yang panjang, akhirnya ditemukan bahwa bulan Mei dapat didedikasikan untuk menghormati Bunda Maria.

Pikiran yang mendasari hasrat tersebut adalah pemahaman dan penghayatan tentang karya penebusan Tuhan untuk menyelamatkan manusia yang telah jatuh dalam dosa. Karena kebaikan dan cinta yang sangat besar terhadap manusia itu, Tuhan sendiri berinisiatif untuk menyelamatkannya dengan mengirim PuteraNya Yesus untuk menebus umat manusia yang telah berdosa itu, dengan perantaraan Maria, sebagai ibuNya. Malaikat Gabriel lalu diutus Tuhan untuk menyampaikan kabar itu kepada Maria di Dusun Nazareth. Syukur, Maria menerima permintaan Tuhan. Dengan rendah hati, Maria menjawab: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu,” (Lk. 1. 37). Jawaban “jadilah”, “fiat” yang diucapkan Maria tersebut menjadi “batu pertama” bagi suatu kehidupan baru umat manusia. Sejak itu karya penebusan dimulai.

Jawaban itu dipandang sebagai awal dari musim semi bagi hidup manusia. Matahari bersinar kembali setelah sekian lama redup oleh dosa. Harapan, semangat, dan gairah hidup baru bersemi kembali. Maka, Maria yang dipilih Tuhan dan yang telah menyampaikan “fiat”-nya, dipandang patut diberi penghormatan. Dan diputuskan, bulan Mei didedikasikan sebagai Bulan Maria. Selama bulan itu umat boleh melakukan perayaan-perayaan khusus berupa ibadah-ibadah, doa-doa  untuk menghormati Maria.

Kebiasaan mendedikasikan bulan Mei kepada Bunda Maria berkembang sekitar akhir abad XIII. Pada awalnya, perayaan bulan Mei sebagai bulan Maria itu, dilakukan secara sporadis saja oleh beberapa kelompok atau paroki. Lama kelamaan perayaan ini berkembang menjadi sebuah bentuk devosi kepada Bunda Maria, dan telah menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika. Pada abad ke enam belas banyak buku ditulis untuk menjelaskan dan mendorong pelaksanaan devosi Bulan Maria. Pada sekitar tahun 1700 praktek devosi Bulan Maria sudah sangat popular di kalangan Yesuit. Sekarang devosi Bulan Maria itu telah menyebar ke seluruh dunia.

Devosi dan Perayaan Mei sebagai Bulan Maria ini merupakan devosi yang diketahui, diakui, direstui, malah direkomendasikan untuk dilaksanakan, oleh para Uskup, bahkan oleh Paus, seperti Paus Pius VII, IX, XII,  Paus Paulus VI, dan Paus Yohanes Paulus II. Salah satu bentuk restu oleh Paus Pius VII bagi perayaan Bulan Mei ialah, pada tahun 1815, memberikan sebagian indulgensi (pembebasan dari hukuman sementara yang disebabkan oleh dosa yang sudah disesali dan diampuni) kepada  siapa yang menjalankan perayaan devosional Bulan Maria itu. Pemberian indulgensi ini kemudian ditingkatkan menjadi pemberian indulgensi lengkap (ialah penghapusan semua hukuman dari dosa yang sudah disesali dan diampuni, sejauh memenuhi syarat-syarat untuk penerimaannya dipenuhi), oleh Paus Pius IX pada tahun 1859.

Paus Pius XII, dalam kotbah-kotbahnya sering mengangkat perayaan Bulan Maria sebagai referensi, dan dalam ensiklik Mediator Dei, ensiklik mengenai Liturgi Suci, beliau menyebut perayaan Bulan Maria sebagai “other excersises of piety which although not strictly belonging to the Sacred Liturgy, are nevertheless of special import and dignity, and may be considered in a certain way to be an addition to the liturgical cult: they have been approved and praised over and over again by the Apostolic See and the Bishops” (no. 182).

Paus Paulus VI, pada tahun 1965 dalam ensiklik Bulan Maria menulis bahwa Bulan Maria merupakan satu devosi, yang menjadi sebuah satu sarana, cara, jalan untuk melakukan doa-doa bagi perdamaian. Beliau mendorong umat beriman untuk mempraktekkan perayaan  yang “membahagiakan dan menyenangkan” (gladdening and consoling) ini, di mana Bunda Maria dihormati dan umat Kristiani dapat diperkaya dengan karunia-karunia rohani (cf. no. 2). Pada bulan Mei tahun 2002, Paus Yohanes Paulus II  berkata: “Today we begin the month dedicated to our Lady a favorite of popular devotion. In accord with a long-standing tradition of devotion, parishes and families continue to make the month of May a ‘Marian’ month, celebrating it with many devout liturgical, catechetical and pastoral initiatives.

Bentuk-bentuk devosi Maria, yang pada umumnya dipraktekkan sampai sekarang dalam Gereja berupa doa-doa khusus, seperti doa Salam Maria, Rosario; nyanyian-nyanyian khusus, yang utama misalnya Antifon Alma Redemptoris Mater, Ave Regina Caelorum, Regina Caeli, dan Salve Regina; puji-pujian kepada Maria seperti yang dituangkan dalam Litani gelar-gelar Santa Perawan Maria yang disusun sekitar abad ke 16; permahkotaan Maria (Maria Coronation) yang biasa dilakukan pada bulan Mei; ziarah ke tempat-tempat di mana Maria pernah menampakkan dirinya atau ke tempat-tempat yang disediakan bagi penghormatan kepada Maria; dan mendedikasikan waktu-waktu khusus bagi Maria, seperti hari Sabtu pertama untuk memperingati kedukaan Maria yang sangat dalam atas kematian Puteranya, Yesus; bulan Mei, sebagai Bulan Maria, dan bulan Oktober menjadi Bulan Rosario.

Akhirnya semoga cinta dan penghormatan kita terhadap Maria semakin meningkat.

 

Rm. ANTON KONSENG, Pr. M. Sc
KETUA YAYASAN SALUS  INFIRMORUM,
SEKRETARIS YAYASAN PRAYOGA RIAU

Tags: ,