Back to Home Page

Hanya Butuh Modal Rp 10 Ribu

PENGALAMAN mengalami banjir di Jakarta menjadi inspirasi bagi empat siswa SMA Santa Maria Pekanbaru untuk berkreasi. Bencana banjir tidak dapat dihindari bila curah hujan tinggi. Namun Kevin Heryadi, Kevin Julius, Krisna, dan Nevi Yunita berhasil menciptakan alat pendeteksi banjir secara dini. Menggunakan alat yang mereka ciptakan, masyarakat bantaran sungai bisa mempersiapkan diri untuk mencari tempat yang aman.

Cara kerja alat ini cukup sederhana dan sangat terjangkau bagi masyarakat. Bahan-bahan yang dibutuhkan cukup mudah dicari dan murah harganya. Satu botol air mineral bekas berukuran 1,5 liter, dua pasang baterai bekas ukuran AA, lampu indikator, kabel satu meter, dua buah paku dan beberapa kulit pisang ambon. Bahan-bahan ini dirangkai di pintu air sungai. Bila banjir datang, lampu indikator akan menyala otomatis. Nyala lampu itu merupakan tanda naiknya air. Masyarakat bantaran sungai bisa mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu air sungai meluap.

Dari semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk merangkai alat pendeteksi banjir tersebut bisa memanfaatkan barang yang ada. Pembelian lampu indikator hanya menghabiskan dana Rp 2 ribu ditambah kabel seharga Rp 4 ribu/ meter. Jadi bila ditotal, dana yang mereka keluarkan tidak lebih dari Rp 10 ribu. Namun dengan harga murah ini memberi manfaat yang cukup besar.

Kevin Heryadi yang kerap dipanggil KH menjelaskan bagaimana merangkai alat tersebut. Botol plastik bekas air mineral dipotong bagian bawahnya. Lalu iris sekitar 1 cm sisi kanan dan kirinya. Irisan pada kedua sisi botol dimaksudkan untuk mengontrol laju bambu yang akan mendorong tuas penghantar listrik. Tancapan paku pada bagian atas botol dari dua sisi yang berbeda. Posisi paku harus sejajar dengan irisan botol dan tidak ditancapkan sepenuhnya. Pada sisi luar paku dikaitkan pada kabel yang sudah siap dialiri listrik dari baterai.

Sedangkan untuk penyambung listrik menggunakan lempengan aluminium yang ditempel pada potongan bambu. Ketika posisi air sungai mulai naik, maka bambu yang telah diberi aluminium akan ikut naik hingga menyentuh kedua ujung paku. Rangkaian ini akan memberi aliran listrik yang menghidupkan lampu indikator. “Nyala lampu tersebut menjadi tanda bahwa ketinggian air sungai meningkat, dalam membuat alat ini, kami sempat mengalami gagal berkali-kali hingga tiga hari berturut-turut,” ujar KH.

KH menjelaskan fungsi kulit pisang ambon. Setelah mencari dari berbagai literatur, ternyata pada kulit pisang mengandung potasium yang dapat menghasilkan elektrolit. Mengetahui hal ini keempat siswa ini mencoba membuktikan kebenaran informasi itu. Menurut KH, kulit pisang dapat dijadikan energi alternatif penghasil listrik. Kulit pisang dihaluskan menggunakan blender lalu dimasukkan dalam baterai AA yang telah dibersihkan isinya.

Pengujian awal yang dilakukan siswa SMA Santa Maria ini yakni untuk menghidupkan jam beker. Percobaan mereka berhasil, lalu ingin mencobakan untuk menghidupkan lampu indikator. KH mengatakan sempat menemui kegagalan lagi. Ia mengaku menghabiskan delapan buah baterai bekas, untuk memaksimalkan energi yang dihasilkan.

Alat pendeteksi banjir ini, akan dipamerkan pada ajang Festival Science yang digelar mahasiswa FMIPA UR di kampusnya Rabu (22/3). KH mengatakan, tujuan mereka membuat alat deteksi banjir bukan untuk memenangkan lomba, melainkan memberi manfaat bagi masyarakat bantaran sungai. Mereka berencana untuk mengembangkan teknologi pada alat ini.

Disadur dari Harian Tribun Pekanbaru, 23 Maret 2011, dengan perubahan seperlunya (Rii) 

Tags: , , ,